MAKALAH
TELAAH KURIKULUM FISIKA
“ PENDEKATAN SCIENTIFIC ”
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kurikulum
2013 mengajak kita semua untuk semangat dan optimis akan meraih pendidikan yang
lebih baik. Kurikulum 2013 yang menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam
pembelajaran menggunakan pendekatan ilmiah sebagai katalisator utamanya atau
perangkat atau apa pun itu namanya. Pendekatan ilmiah (scientific approach)
diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan,
dan pengetahuan peserta didik dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi
kriteria ilmiah. Dalam konsep pendekatan scientific yang disampaikan
oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dipaparkan minimal ada 7 (tujuh)
kriteria dalam pendekatan scientific. Ketujuh kriteria tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Materi
pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan
logika atau penalaran tertentu ; bukan sebatas kira – kira, khayalan, legenda,
atau dongeng semata.
2. Penjelasan
guru, respon siswa, dan interaksi edukatif guru – siswa terbebas dari prasangka
yang serta – merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari
alur berpikir logis.
3. Mendorong
dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam
mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi
pembelajaran.
4. Mendorong
dan menginspirasi siswa mampu berpikir hipotetik dalam melihat perbedaan, kesamaan,
dan tautan satu sama lain dari materi pembelajaran.
5. Mendorong
dan menginspirasi siswa dalam memahami, menerapkan, dan mengembangkan pola
berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran.
6. Berbasis
pada konsep, teori, dan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan.
7. Tujuan
pembelajaran dirumuskan secara sederhana dan jelas, tetapi menarik system
penyajiannya.
Proses
pembelajaran scientific merupakan perpaduan antara proses pembelajaran
yang semula terfokus pada eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dilengkapi
dengan mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengkomunikasikan
(Kemendikbud, 2013). Meskipun ada yang mengembangkan lagi menjadi mengamati,
menanya, mengumpulkan data, mengolah data, mengkomunikasikan, menginovasi dan
mencipta. Namun, tujuan dari beberapa proses pembelajaran yang harus ada dalam
pembelajaran scientific sama, yaitu menekankan bahwa belajar tidak hanya
terjadi di ruang kelas, tetapi juga di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Selain itu, guru cukup bertindak sebagai scaffolding ketika
anak/siswa/peserta didik mengalami kesulitan, serta guru bukan satu – satunya
sumber belajar. Sikap tidak hanya diajarkan secara verbal, tetapi melalui
contoh dan keteladanan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana
konsep dasar pendekatan scientific?
2. Apa
sajakah langkah - langkah umum pembelajaran dengan pendekatan scientific?
3. Bagaimanakah
penerapan pendekatan scientific dalam
pembelajaran?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk
mengetahui konsep dasar pendekatan scientific.
2. Untuk
mengetahui langkah – langkah umum pembelajaran dengan menggunakan pendekatan scientific.
3. Untuk
mengetahui penerapan pendekatan scientific
dalam pembelajaran.
1.4 Manfaat
Diharapkan setelah membaca makalah
ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa calon guru sehingga dapat menambah
pengetahuan mengenai konsep dasar pendekatan scientific, langkah-langkah umum pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan scientific, dan penerapan
pendekatan scientific dalam
pembelajaran.
1.5 Metode Penulisan
Menggunakan Metode
Kajian Pustaka, yaitu mencari berbagai informasi dari internet dan sumber
lainnya yang mendukung pembuatan makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Konsep
Dasar Pendekatan Scientific
2.1.1
Definisi
Pembelajaran dengan pendekatan scientific adalah proses pembelajaran
yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengonstruk
konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk
mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau
merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis
data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang
“ditemukan”. Pendekatan scientific
dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal,
memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa
berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari
guru. Oleh karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan
untuk mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui
observasi, dan bukan hanya diberi tahu.
Penerapan pendekatan scientific dalam pembelajaran melibatkan
keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan,
menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut,
bantuan guru diperlukan. Akan tetapi bantuan guru tersebut harus semakin
berkurang dengan semakin bertambah dewasanya siswa atau semakin tingginya kelas
siswa.
Metode scientific sangat relevan dengan tiga teori belajar yaitu teori
Bruner, teori Piaget, dan teori Vygotsky. Teori belajar Bruner disebut juga
teori belajar penemuan. Ada empat hal pokok berkaitan dengan teori belajar
Bruner (dalam Carin & Sund, 1975). Pertama, individu hanya belajar
dan mengembangkan pikirannya apabila ia menggunakan pikirannya. Kedua, dengan
melakukan proses-proses kognitif dalam proses penemuan, siswa akan memperoleh
sensasi dan kepuasan intelektual yang merupakan suatau penghargaan intrinsik. Ketiga,
satu-satunya cara agar seseorang dapat mempelajari teknik-teknik dalam
melakukan penemuan adalah ia memiliki kesempatan untuk melakukan penemuan. Keempat,
dengan melakukan penemuan maka akan memperkuat retensi ingatan. Empat hal
di atas adalah bersesuaian dengan proses kognitif yang diperlukan dalam
pembelajaran menggunakan metode scientific.
Teori Piaget, menyatakan bahwa
belajar berkaitan dengan pembentukan dan perkembangan skema (jamak skemata).
Skema adalah suatu struktur mental atau struktur kognitif yang dengannya
seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengkoordinasi lingkungan
sekitarnya (Baldwin, 1967). Skema tidak pernah berhenti berubah, skemata
seorang anak akan berkembang menjadi skemata orang dewasa. Proses yang
menyebabkan terjadinya perubahan skemata disebut dengan adaptasi. Proses
terbentuknya adaptasi ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu asimilasi dan
akomodasi. Asimilasi merupakan proses kognitif yang dengannya seseorang
mengintegrasikan stimulus yang dapat berupa persepsi, konsep, hukum, prinsip
ataupun pengalaman baru ke dalam skema yang sudah ada didalam pikirannya.
Akomodasi dapat berupa pembentukan skema baru yang dapat cocok dengan ciri-ciri
rangsangan yang ada atau memodifikasi skema yang telah ada sehingga cocok
dengan ciri-ciri stimulus yang ada. Dalam pembelajaran diperlukan adanya
penyeimbangan atau ekuilibrasi antara asimilasi dan akomodasi.
Vygotsky, dalam teorinya
menyatakan bahwa pembelajaran terjadi apabila peserta didik bekerja atau
belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih
berada dalam jangkauan kemampuan atau tugas itu berada dalam zone of
proximal development daerah terletak antara tingkat perkembangan anak saat
ini yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan
orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. (Nur dan Wikandari, 2000:4).
Pembelajaran
dengan metode scientific memiliki
karakteristik sebagai berikut :
1)
Berpusat pada siswa.
2)
Melibatkan keterampilan proses
sains dalam mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip.
3)
Melibatkan proses-proses
kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya
keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa.
4)
Dapat mengembangkan karakter
siswa.
2.1.2
Tujuan
Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific
Tujuan pembelajaran dengan
pendekatan scientific didasarkan pada
keunggulan pendekatan tersebut. Beberapa tujuan pembelajaran dengan pendekatan scientific adalah:
1)
untuk meningkatkan kemampuan
intelek, khususnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa.
2)
untuk membentuk kemampuan siswa
dalam menyelesaikan suatu masalah secara sistematik.
3)
terciptanya kondisi
pembelajaran dimana siswa merasa bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan.
4)
diperolehnya hasil belajar yang
tinggi.
5)
untuk melatih siswa dalam
mengomunikasikan ide-ide, khususnya dalam menulis artikel ilmiah.
6)
untuk mengembangkan karakter
siswa.
2.1.3
Prinsip-Prinsip
Pembelajaran dengan Pendekatan Scientific
Beberapa prinsip pendekatan scientific dalam kegiatan pembelajaran
adalah sebagai berikut :
1)
pembelajaran berpusat pada
siswa
2)
pembelajaran membentuk students’ self concept
3)
pembelajaran terhindar dari
verbalisme
4)
pembelajaran memberikan
kesempatan pada siswa untuk mengasimilasi dan mengakomodasi konsep, hukum, dan
prinsip
5)
pembelajaran mendorong terjadinya
peningkatan kemampuan berpikir siswa
6)
pembelajaran meningkatkan
motivasi belajar siswa dan motivasi mengajar guru
7)
memberikan kesempatan kepada
siswa untuk melatih kemampuan dalam komunikasi
8)
adanya proses validasi terhadap
konsep, hukum, dan prinsip yang dikonstruksi siswa dalam struktur kognitifnya.
2.2 Langkah-Langkah Umum Pembelajaran dengan
Pendekatan Scientific
Proses
pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan
menggunakan pendekatan ilmiah (scientific
appoach). Proses pembelajaran menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan
keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan scientific, ranah sikap menggamit
transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”
Ranah keterampilan menggamit
transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar
peserta didik “tahu apa.” Hasil akhirnya adalahpeningkatan dan
keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik(soft skills)
dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard
skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap,
keterampilan, dan pengetahuan.
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi
pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah (scientific appoach). Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran
sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan,
menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran,
materi, atau situasi tertentu, sangat
mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara
prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus
tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari
nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah. Pendekatan scientific dalam pembelajaran disajikan sebagai berikut :
a.
Mengamati
(observasi)
Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses
pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan
tertentu, seperti menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik senang dan
tertantang, dan mudah pelaksanaannya. Metode mengamati sangat bermanfaat bagi
pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki
kebermaknaan yang tinggi. Kegiatan mengamati dalam pembelajaran sebagaimana
disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a, hendaklah guru membuka secara luas
dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui
kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi peserta
didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat,
membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek. Adapun
kompetensi yang diharapkan adalah melatih kesungguhan, ketelitian, dan mencari
informasi.
b.
Menanya
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan
secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah
dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik
untuk dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang yang hasil pengamatan
objek yang konkrit sampai kepada yang abstra berkenaan dengan fakta, konsep,
prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat
faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik. Dari situasi di mana
peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan
bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana peserta
didik mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri. Dari kegiatan kedua
dihasilkan sejumlah pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa
ingin tahu peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu
semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan terebut menjadi dasar untuk mencari
informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai
yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang
beragam.
Kegiatan “menanya” dalam kegiatan pembelajaran
sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah
mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang
diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang
diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat
hipotetik). Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini adalah
mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan
untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar
sepanjang hayat.
c.
Mengumpulkan
Informasi
Kegiatan “mengumpulkan informasi” merupakan tindak
lanjut dari bertanya. Kegiatan ini dilakukan dengan menggali dan mengumpulkan
informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta didik
dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang
lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut
terkumpul sejumlah informasi. Dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, aktivitas
mengumpulkan informasi dilakukan melalui eksperimen, membaca sumber lain selain
buku teks, mengamati objek / kejadian / aktivitas wawancara dengan nara sumber
dan sebagainya. Adapun kompetensi yang diharapkan adalah mengembangkan sikap
teliti, jujur,sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi,
menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang
dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
d.
Mengasosiasikan
/ Mengolah Informasi / Menalar
Kegiatan “mengasosiasi/ mengolah informasi/ menalar”
dalam kegiatan pembelajaran sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor
81a Tahun 2013, adalah memproses informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas
dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan
mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi. Pengolahan informasi yang
dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada
pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang
memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan. Kegiatan ini
dilakukan untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainya,
menemukan pola dari keterkaitan informasi tersebut. Adapun kompetensi yang
diharapkan adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan,
kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif
serta deduktif dalam menyimpulkan.
Aktivitas ini juga diistilahkan sebagai kegiatan
menalar, yaitu proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata
empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan.
Aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan
pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran
asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan
mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian
memasukannya menjadi penggalan memori. Selama mentransfer peristiwa-peristiwa
khusus ke otak, pengalaman tersimpan dalam referensi dengan peristiwa lain.
Pengalaman-pengalaman yang sudah tersimpan di memori otak berelasi dan
berinteraksi dengan pengalaman sebelumnya yang sudah tersedia.
e.
Menarik
Kesimpulan
Kegiatan menyimpulkan dalam pembelajaran dengan
pendekatan saintifik merupakan kelanjutan dari kegiatan mengolah data atau
informasi. Setelah menemukan keterkaitan antar informasi dan menemukan berbagai
pola dari keterkaitan tersebut, selanjutnya secara bersama-sama dalam satu
kesatuan kelompok, atau secara individual membuat kesimpulan.
f.
Mengkomunikasikan
Pada pendekatan scientific guru diharapkan
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengkomunikasikan apa yang telah
mereka pelajari. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui menuliskan atau
menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi,
mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan
dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta
didik tersebut. Kegiatan “mengkomunikasikan” dalam kegiatan pembelajaran
sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013, adalah
menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara
lisan, tertulis, atau media lainnya.
Adapun kompetensi yang diharapkan dalam kegiatan ini
adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir
sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan
kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
2.3 Penerapan Pendekatan Scientific dalam Pembelajaran
Kegiatan
pembelajaran meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan pendahuluan,
kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan bertujuan
untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan
siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebagai contoh ketika
memulai pembelajaran, guru menyapa anak dengan nada bersemangat dan gembira
(mengucapkan salam), mengecek kehadiran para siswa dan menanyakan
ketidakhadiran siswa apabila ada yang tidak hadir.
Dalam
metode scientific tujuan utama
kegiatan pendahuluan adalah memantapkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep
yang telah dikuasai yang berkaitan dengan materi pelajaran baru yang akan
dipelajari oleh siswa. Dalam kegiatan ini guru harus mengupayakan agar siswa
yang belum paham suatu konsep dapat memahami konsep tersebut, sedangkan siswa
yang mengalami kesalahan konsep, kesalahan tersebut dapat dihilangkan. Pada
kegiatan pendahuluan, disarankan guru menunjukkan fenomena atau kejadian “aneh”
atau “ganjil” (discrepant event) yang dapat menggugah timbulnya pertanyaan pada
diri siswa.
Kegiatan
inti merupakan kegiatan utama dalam proses pembelajaran atau dalam proses
penguasaan pengalaman belajar (learning experience) siswa. Kegiatan inti
dalam pembelajaran adalah suatu proses pembentukan pengalaman dan kemampuan
siswa secara terprogram yang dilaksanakan dalam durasi waktu tertentu. Kegiatan
inti dalam metode scientific
ditujukan untuk terkonstruksinya konsep, hukum atau prinsip oleh siswa dengan
bantuan dari guru melalui langkah-langkah kegiatan pembelajaran yang diberikan.
Kegiatan
penutup ditujukan untuk dua hal pokok. Pertama, validasi terhadap
konsep, hukum atau prinsip yang telah dikonstruk oleh siswa. Kedua, pengayaan
materi pelajaran yang dikuasai siswa.
Contoh
kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup diberikan di bawah
ini :
Contoh Kegiatan Pendahuluan :
1.
Mengucapkan salam
2.
Guru mengingatkan kembali
tentang konsep-konsep yang telah dipelajari oleh siswa yang berhubungan dengan
materi baru yang akan dibelajarkan. Sebagai contoh dalam mapel IPA, guru
menanyakan konsep tentang larutan dan komponennya sebelum pembelajaran materi
asam-basa. Untuk IPS, misalnya menggunakan apersepsi tentang bencana banjir
yang kerap terjadi. Di mana, kapan, dan mengapa bisa terjadi, siapa yang sering
menjadi korban, apa yang dilakukan oleh masyarakat korban banjir ketika
menghadapi bencana tersebut.
3.
Menyampaikan tujuan
pembelajaran.
Contoh Kegiatan Inti :
1.
Mengamati :
Dalam
mapel IPA, guru meminta siswa untuk mengamati suatu fenomenon. Sebagai contoh
dalam mapel IPA guru meminta siswa untuk mengamati sifat larutan yang diperoleh
dari ekstrak buah belimbing atau tomat. Fenomena yang diberikan dapat juga
dalam bentuk video. Dalam mapel IPS contohnya adalah fenomena yang diamati
adalah gambar-gambar (foto-foto, slide) tentang hutan yang gundul, hujan deras,
orang membuang sampah sembarangan, sungai meluap, banjir besar. slide, atau
video klip seputar bencana banjir di suatu tempat.
2.
Menanya :
Dalam
mapel IPA, siswa mengajukan pertanyaan tentang suatu fenomenon. Sebagai contoh
siswa mempertanyakan “Mengapa larutan ekstrak buah belimbing atau tomat
memiliki rasa manis dan asin”. Sebagai contoh di mapel IPS adalah “Apakah
sebab dan akibat banjir bisa terjadi di ruang dan waktu yang sama atau
berbeda?”
3.
Menalar untuk mengajukan
hipotesis :
Sebagai
contoh, dalam mapel IPA siswa mengajukan pendapat bahwa rasa manis dan masam
pada larutan enkstrak buah belimbing atau tomat disebabkan oleh adanya zat yang
memiliki rasa manis dan zat yang memiliki rasa asam. Pendapat siswa ini
merupakan suatu hipotesis. Contoh hipotesis dalam mapel IPS adalah Banjir
(akibat) dan penggundulan hutan (sebab) bisa: a) Terjadi di tempat yang
sama b) Terjadi di tempat berbeda.
4.
Mengumpulkan data:
Dalam mapel IPA, siswa
mengumpulkan data atau guru memberikan data tentang komponen-komponen yang
terdapat dalam larutan ekstrak buah belimbing atau buah tomat.
5.
Menganalisis data:
Siswa
menganalis data yang diberikan oleh guru. Analisis data dalam IPS, misalnya
siswa diajak untuk membaca buku siswa halaman 2-6 tentang konsep ruang, waktu,
konektivitas, dan interaksi sosial. Konsep-konsep ini dihubungkan dengan
informasi atau data awal, pertanyaan dan hipotesis, serta data yang terkumpul.
6.
Menarik kesimpulan
Dalam
mapel IPA, siswa menarik kesimpulan berdasar hasil analisis yang mereka
lakukan. Sebagai contoh siswa menyimpulkan bahwa rasa manis pada larutan
ekstrak buah belimbing atau buah tomat disebabkan oleh adanya gula, sedangkan
rasa masam disebabkan oleh adanya asam. Contoh bentuk kesimpulan yang ditarik
dalam IPS misalnya hujan di Bogor menyebabkan banjir di Jakarta menunjukkan
adanya keterkaitan antarruang dan waktu.
7.
Mengomunikasikan:
Pada
langkah ini, siswa dapat menyampaikan hasil kerjanya secara lisan maupun
tertulis, misalnya melalui presentasi kelompok, diskusi, dan tanya jawab.
Contoh Kegiatan Penutup
1.
Dalam mapel IPA, misalnya guru
meminta siswa untuk mengungkapkan konsep, prinsip atau teori yang telah
dikonstruk oleh siswa. Dalam mapel IPS, misalnya siswa diminta untuk
menjelaskan contoh keterkaitan antarruang dan waktu, misalnya hubungan antar
desa dan kota.
2.
Dalam mapel IPA maupun mapel
lain, guru dapat meminta siswa untuk meningkatkan pemahamannya tentang konsep,
prinsip atau teori yang telah dipelajari dari buku-buku pelajaran yang relevan
atau sumber informasi lainnya. Contoh dalam mapel IPA di atas juga dapat
digunakan dalam mapel IPS.
3.
Dalam mapel IPA, mapel IPS, dan
mapel lain, guru dapat memberikan beberapa situs di internet yang berkaitan
dengan konsep, prinsip atau teori yang telah dipelajari oleh siswa, kemudian
guru meminta siswa untuk mengakses situs-situs tersebut.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari makalah di atas
dapat kita simpulkan bahwa :
1. Konsep
dasar pendekatan scientific terdiri
dari definisi pendekatan scientific,
tujuan pembelajaran dengan pendekatan scientific
dan prinsip-prinsip pembelajaran dengan pendekatan scientific.
2. Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran
sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah,
menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran.
3. Kegiatan
pembelajaran meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan pendahuluan,
kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Dalam metode scientific
tujuan utama kegiatan pendahuluan adalah memantapkan pemahaman siswa terhadap
konsep-konsep yang telah dikuasai yang berkaitan dengan materi pelajaran baru
yang akan dipelajari oleh siswa.
Kegiatan inti dalam metode scientific ditujukan untuk terkonstruksinya konsep, hukum atau
prinsip oleh siswa dengan bantuan dari guru melalaui langkah-langkah kegiatan
pembelajaran yang diberikan.
Kegiatan penutup ditujukan untuk dua hal pokok. Pertama,
validasi terhadap konsep, hukum atau prinsip yang telah dikonstruk oleh
siswa. Kedua, pengayaan materi pelajaran yang dikuasai siswa.
3.2 Saran
Dengan dibuatnya
makalah ini diharapkan para pembaca khususnya mahasiswa calon pendidik dapat
mengetahui konsep dasar pendekatan scientific,
langkah-langkah umum pembelajaran dengan pendekatan scientific, dan penerapan
pedekatan scientific dalam
pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
·
Akhmad, Sudrajat. 2013. Pendekatan
Saintifik Ilmiah dalam Pembelajaran. http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com.
Diunduh
pada 16 Maret 2014
·
Anonim. 2013. Pendekatan Saintifik. http://pengawasmadrasah.files.wordpress.com.
Diunduh pada 16 Maret 2014
·
Habibah, Mad,
Putra. 2013. Konsep Pendekatan Scientific. http://habibahmadpurba.files.wordpress.com.
Diunduh pada 16 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar