PERKEMBANGAN ILMU KEBUMIAN PADA TIAP
PERIODE
Bumi terbentuk miliaran tahun lalu, tetapi permukaan bumi
telah banyak mengalami proses perkembangan dan perubahan sepanjang masa.
Bumi adalah sebuah planet kebumian, yang artinya terbuat dari batuan, berbeda
dibandingkan gas raksasa seperti Jupiter. Planet ini adalah yang terbesar dari
empat planet kebumian dalam kedua arti yaitu massa dan ukuran. Dari keempat
planet kebumian, bumi juga memiliki kepadatan tertinggi, gravitasi permukaan
terbesar, medan magnet terkuat dan rotasi paling cepat. Bumi juga merupakan
satu-satunya planet kebumian yang memiliki lempeng tektonik yang aktif. Manusia
telah menjadi agen perubahan terbesar bagi topografi dan iklim bumi selama dua
abad terakhir ini.
Bumi telah terbentuk
sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu. Bumi merupakan planet dengan
urutan ketiga dari delapan planet yang memiliki jarak yang dekat
dengan matahari. Jarak bumi dengan matahari sekitar 150 juta km. Bumi berbentuk
bulat dengan radius ± 6.370 km. Bumi merupakan satu-satunya planet yang dapat dihuni
oleh berbagai jenis mahluk hidup dari kedelapan planet yang ada di tata surya
kita. Permukaan bumi sendiri terdiri dari daratan dan lautan.
Cabang ilmu yang mempelajari tentang
kebumian ini menggunakan gabungan ilmu fisika, geografi, matematika, kimia, serta biologi guna membentuk suatu pengertian kuantitatif
dari lapisan-lapisan bumi. Ilmu kebumian mulai berkembang sejak periode awal
sains. Perkembangan tersebut menciptakan berbagai teori pembentukkan bumi.
Para ilmuan (khususnya peneliti kebumian) yang hidup pada setiap periode
terus meneliti bagaimana sejarah terbentuknya bumi sesuai pada periodenya.
Teori-teori yang berkembangpun sangat variatif pada tiap-tiap periode. Tentunya
perkembangan tersebut lebih ke arah yang rasional dan memungkinkan difahami
oleh masyarakat yang ada pada tiap periode.
1.
Periode
Pra-Sains (Antara zaman purbakala s.d. 1550)
Pada periode pra-sains manusia belum berfikir mengenai awal terbentuknya bumi. Dari mana bumi berasal atau
kapan bumi ini terbentuk. Perkembangan pengetahuan mengenai bumi pada periode
ini masih seputar bentuk-bentuk bumi yang di kemukakan atas dasar
pemikiran yang sederhana. Pada tahun 384-322 SM, Aristoteles mengemukakan teori
Geosentris (bumi sebagai pusat tata surya),
yang kemudian di awal abad ke-2 Claudius Ptolemaus juga mengungkapkan teori
tersebut. Sedangkan sekitar tahun 310-230 SM Aristrachus mengajukan teori
heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya), yang kemudian Copernicus juga mengungkapkan teori tersebut pada abad
ke-15.
2.
Periode Awal Sains (1550 s.d. 1800)
Pada periode ini merupakan periode awal manusia berfikir
mengenai darimana dan bagaimana proses bumi ini terbentuk.
Hipotesis nebula pertama kali dikemukakan oleh Imannuel
Kant(1724-1804) pada tahun 1775. Kabut/nebula adalah kabut yang terdiri dari
gas (terutama helium dan hidrogen) dan partikel-partikel angkasa. Kemudian ahli
matematika terkenal dari Prancis Simon de Laplace mengusulkan teori yang hampir
sama (teori kant-laplace). Dalam teori Kant-Laplace dikemukakan bahwa di jagat
raya terdapat gas yang kemudian berkumpul menjadi kabut (nebula). Menurutnya gaya
tarik-menarik antar gas ini membentuk kumpulan kabut yang sangat besar dan
berputar semakin cepat. Dalam proses
perputaran yang sangat cepat ini, materi kabut bagian khatulistiwa terlempar
memisah dan memadat (karena pendinginan). Bagian yang terlempar inilah
yang kemudian menjadi planet-planet dalam tata surya.
3.
Periode Fisika
Klasik (1800 s.d. 1900)
Seabad setelah teori kabut (nebula) tersebut muncul, kemudian
muncullah Teori Planetesimal yang dikemukakan oleh Chamberlin dan Moulton.
Teori ini mengungkapkan bahwa pada mulanya telah terdapat matahari. Pada suatu
ketika, matahari asal ini didekati oleh sebuah bintang besar, yang menyebabkan
terjadinya penarikan pada bagian matahari. Akibat tenaga penarikan matahari
asal tadi, terjadilah ledakan-ledakan yang hebat. Gas yang meledak ini keluar
dari atmosfer matahari, kemudian mengembun
dan membeku menjadi benda-benda padat yang disebut planetesimal.
Planetesimal ini dalam perkembangannya menjadi planet-planet, dan salah satunya
adalah planet Bumi kita.
Pada dasarnya, proses-proses teoritis terjadinya
planet-planet dan bumi, dimulai dari benda berbentuk gas yang bersuhu sangat
panas. Kemudian karena proses waktu dan perputaran cepat, maka terjadi pendinginan
yang menyebabkan pemadatan (pada bagian luar). Adapaun tubuh Bumi bagian dalam
masih bersuhu tinggi.
4.
Periode Fisika Modern (1900 ± saat ini)
a.
Teori Pasang
Surut Gas
Teori ini
dikemukakan oleh Jeans dan Jeffreys pada tahun
1917, yakni bahwa sebuah bintang besar mendekati matahari dalam jarak pendek, sehingga
menyebabkan terjadinya pasang surut pada tubuh matahari, saa tmatahari itu
masih berada dalam keadaan gas. Terjadinya pasang surut air laut yang kita
kenal di Bumi, ukuranya sangat kecil. Penyebabnya adalah kecilnya massa bulan dan jauhnya jarak bulan ke Bumi (60
kali radius orbit Bumi).
Tetapi, jika
sebuah bintang yang bermassa hampir sama besar dengan matahari mendekati
matahari, maka akan terbentuk semacam gunung-gunung gelombang raksasa pada
tubuh matahari, yang disebabkan oleh gaya tarik bintang tadi. Gunung-guung
tersebut akan mencapai tinggi yang luar biasa dan membentuk semacam lidah pijar
yang besar sekali, menjulur dari massa matahari tadi dan merentang ke arah
bintang besar itu.
Dalam
lidah yang panas ini terjadi perapatan gas-gas dan akhirnya kolom-kolom ini
akan pecah, lalu berpisah menjadi benda-benda tersendiri, yaitu planet-planet.
Bintang besar yang menyebabkan penarikan pada bagian-bagian tubuh matahari
tadi, melanjutkan perjalanan di jagat raya, sehingga lambat laun akan hilang
pengaruhnya terhadap planet yang berbentuk tadi.
Planet-planet
itu akan berputar mengelilingi matahari dan mengalami proses pendinginan.
Proses pendinginan ini berjalan dengan lambat pada planet-planet besar,
seperti Yupiter dan Saturnus, sedangkan pada planet-planet kecil seperti
Bumi kita, pendinginan berjalan relatif lebih cepat. Sementara pendinginan
berlangsung, planet-planet itu masih mengelilingi matahari pada orbit berbentuk
elips, sehingga besar kemungkinan pada suatu ketika meraka akan mendekati
matahari dalam jarak yang pendek. Akibat kekuatan penarikan matahari, maka
akan terjadi pasang surut pada tubuh-tubuh planet yang baru lahir.
Matahari akan menarik kolom-kolom materi dari planet-planet, sehingga lahirlah
bulan-bulan (satelit-satelit) yang berputar mengelilingi planet-planet.
peranan yang dipegang matahari dalam membentuk bulan-bulan ini pada
prinsipnya sama dengan peranan bintang besar dalam membentuk planet-planet.
b.
Teori Bintang
Kembar
dikemukakan
oleh seorang ahli Astronomi R.A Lyttleton sekitar tahun 1930. Menurutnya dulu
tata surya kita berupa dua bintang yang hampir sama ukurannya dan berdekatan,
yang kemudian salah satunya meledak meninggalkan serpihan-serpihan kecil. Lalu
karena bintang yang masih utuh dan tidak meledak mempunyai gaya gravitasi yang
masih kuat, maka sebaran pecahan ledakan bintang tersebut mengelilingi bintang
yang tidak meledak. Menurut Lyttleton bintang yang tidak meledak itu adalah
matahari, sedangkan pecahan bintang yang
lain adalah planet-planet yang mengelilinginya.
c.
Teori Dentuman
besar (Big Bang Theory 1972)
Teori ini
berdasarkan jenis asumsi adanya massa yang sangat besar serta mempunyai massa
jenis sangat besar. Karena adanya reaksi inti menyebabkan massa tersebut
meledak hebat. Massa tersebut kemudian mengembang dengan sangat cepat, menjauhi
pusat ledakan. Karena adanya gaya gravitasi, maka bintang yang paling kuat
gravitasinya akan menjadi pusatnya. Dari berbagai teori yang dikemukakan para
ahli, kebanyakan ilmuwan mendukung teori dentuman besar. Menurut mereka,
ledakan besar tersebut merupakan awal terbentuknya alam semesta. Berdasarkan
Theory Big Bang, proses terbentuknya bumi berawal dari puluhan milyar tahun yang
lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan kabut raksasa yang berputar pada porosnya.
Putaran yang dilakukan tersebut memungkinkan bagian-bagian kecil dan ringan terlempar
ke luar dan bagian besar berkumpul di pusat, membentuk cakram raksasa. Suatu
saat, gumpalan kabut raksasa itu meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan
nebula-nebula. Selama jangka waktu lebih kurang 4,6 milyar tahun,
nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk suatu galaksi yang disebut dengan
nama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk sistem tata surya. Sementara itu,
bagian ringan yang terlempar ke luar tadi mengalami kondensasi sehingga
membentuk gumpalan-gumpalan yang mendingin dan memadat. Kemudian,
gumpalan-gumpalan itu membentuk planet-planet, termasuk planet bumi.
v Perkembangan Ilmu Kebumian
Dalam perkembangannya, planet bumi terus mengalami
proses secara bertahap hingga terbentuk seperti sekarang ini. Ada tiga tahap
dalam proses pembentukan bumi. Awalnya,
bumi masih merupakan planet homogen dan belum mengalami perlapisan atau
perbedaan unsur. Pembentukan perlapisan struktur bumi yang diawali dengan
terjadinya diferensiasi. Material besi yang berat jenisnya lebih besar akan
tenggelam, sedangkan yang berat jenisnya lebih ringan akan bergerak ke permukaan.
Molekul di dalam inti Bumi (yang umumnya berwujud ion) selalu
bergerak dengan sangat cepat karena suhu dan pengaruh medan gravitasi, menimbulkan
arus listrik yang menciptakan medan magnet raksasa yang disebut magnetosfer. Magnetosfer
Bumi adalah suatu daerah di angkasa yang bentuknya ditentukan oleh luasnya
medan magnet internal Bumi, plasma angin matahari, dan medan magnet antar planet.
Di magnetosfer, campuran ion-ion dan elektron-elektron
bebas baik dari angin matahari maupun ionosfir bumi dibatasi oleh gaya magnet
dan listrik yang lebih kuat dari pada gravitasi dan tumbukan. Magnetosfer Bumi
ditemukan tahun 1958 oleh satelit Explorer 1 selama penelitian yang dilakukan
pada masa Tahun Geofisika Internasional. Sebelumnya, para ilmuwan tahu bahwa
arus listrik mengalir di ruang angkasa, karena letusan matahari kadang
menyebabkan gangguan-gangguan “badai magnetik”. Namun tidak seorangpun tahu, di
mana arus itu mengalir dan mengapa, atau bahwa angin matahari itu ada. Pada
Agustus dan September 1958, Proyek Argus dilakukan untuk menguji teori tentang
pembentukan sabuk radiasi yang mungkin memiliki kegunaaan taktis dalam perang.
Ilmu bumia dalah suatu istilah untuk kumpulan
cabang-cabang ilmu yang mempelajari bumi. Dalam perkembangan ilmu kebumian
muncul cabang-cabang ilmu baru yang berkaitan dengan kebumian. Cabang-cabang
utama ilmu kebumian antara lain adalah:
·
Geologi
Geologi
mempelajari tentang lapisan batuan dari kulit bumi (atau litosfer)
danperkembangan sejarahnya. Cabang utama dari ilmu ini adalah mineralogi, petrologi,
geokimia, paleontologi, stratigrafi dan sedimentologi.
·
Geofisika
Ilmu
ini mempelajari sifat-sifat fisis bumi, seperti bentuk bumi, reaksi terhadap
gaya, serta medan potensial bumi (medan magnet dan gravitasi). Geofisika juga
menyelidiki interior bumi seperti inti, mantel bumi, dan kulit bumi
serta kandungan-kandungan alaminya.
·
Geodesi
Geodesi
adalah ilmu tentang pengukuran dan pemetaan permukaan bumi dan dasar laut.
·
Ilmu tanah
Ilmu tanah
mempelajari lapisan terluar kulit bumi yang terlibat dalam proses pembentukan
tanah (atau pedosfer). Disiplin ilmu utama antara lain adalah edafologi dan
pedologi.
·
Oseanografi
dan hidrologi
Ilmu ini mempelajari
bagian air dari bumi (laut dan air tawar) atau hidrosfer. Kadang cabang
ilmu ini digabungkan dengan geofisika.
·
Glasiologi
Ilmu glasiologi mempelajari bagian es
dari bumi atau kriosfer.
·
Ilmu atmosfer
Ilmu ini mempelajari
bagian gas dari bumi atau atmosfer antara permukaan
bumi sampai lapisan eksofer (~1000 km). Cabang utama bidang ini
adalah meteorologi, klimatologi, dan aeronomi.
v Struktur Bumi
·
Hidrosfer
Hidrosfer adalah
lapisan air yang ada dipermukaan bumi. Kata
hidrosfer berasal dari kata hidros yang berarti air dan sphere yang
berartilapisan. Hidrosfer di permukaan bumi meliputi danau,sungai, laut,
lautan, salju atau gletser, air tanah dan uap air yang terdapat di lapisan
udara.
·
Atmosfer
Atmosfer adalah
lapisan gas yang melingkupi sebuah planet, termasuk bumi, dari permukaan planet
tersebut sampai jauh di luar angkasa. Di bumi, atmosfer terdapat dari
ketinggian 0 km di atas permukaan tanah, sampai dengan sekitar 560 km dari atas permukaan bumi.Atmosfer tersusun
atas beberapa lapisan, yang dinamai menurut fenomena yang terjadi di lapisan tersebut. Transisi
antara lapisan yang satu dengan yang lain berlangsung bertahap. Studi tentang
atmosfer mula-mula dilakukan untuk memecahkan masalah cuaca, fenomena
pembiasan sinar matahari saat terbit dan tenggelam, serta kelap-kelipnya bintang.
·
Biosfer
Biosfer adalah bagian luar dari planet Bumi, mencakup
udara, daratan, dan air, yang memungkinkan kehidupan dan proses biotik berlangsung. Dalam pengertian luas
menurut geofisiologi, biosfer adalah sistemekologis global yang menyatukan
seluruh makhluk hidup dan hubungan antar mereka, termasuk interaksinya
dengan unsur litosfer (batuan), hidrosfer (air), dan atmosfer (udara)
Bumi. Bumi hingga sekarang adalah satu-satunya tempat yang diketahui yang
mendukung kehidupan. Biosfer dianggap telah berlangsung selama sekitar 3,5 milyar tahun
dari 4,5 milyar tahun usia Bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar