Sejarah
Perkembangan Astronomi
Pengertian
Astronomi
Astronomi,
erat sekali hubungannya dengan perkara keseharian kita. Secara etimologi
astronomi berarti "ilmu bintang" adalah ilmu yang melibatkan
pengamatan dan penjelasan kejadian yang terjadi di luar Bumi dan atmosfernya. Ilmu
ini mempelajari asal-usul, evolusi, sifat fisik dan kimiawi benda-benda yang
bisa dilihat di langit (dan di luar Bumi), juga proses yang melibatkan mereka. Astronomi
merupakan cabang pengetahuan eksakta yang tertua.
Ikhwan As
Shafa memberikan definisi astronomi di dalam bukunya Rasaa-iluikhwan As Shafa,
adalah ilmu untuk mengetahui tata surya, menghitung banyak bintang (buruj),
jarak, besar dan gerakannya, serta mengetahui segala sesuatu yang berhubungan
dengan pengetahuan ini.
Thasy
Kubra memberikan definisinya di dalam bukunya Miftaahus Sa’adah, adalah ilmu
untuk mengetahui ihwal benda-benda angkasa yang tinggi dan yang rendah, lengkap
dengan bentuk, letak, ukuran serta jaraknya.
Di dalam
khazanah islam, astronomi dikenal dengan nama ilmu falak yang berarti orbit at
au lintasan benda-benda langit. Ilmu falak adalah ilmu pengetahuan yang
mempelajari lintasan benda-benda langit khususnya bumi, bulan, dan matahari
pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk mengetahui posisi benda langit
antara satu sama lainnya, agar dapat diketahui waktu-waktu dipermukaan bumi.
Ilmu falak ini sangat berpengaruh sekali terhadap pelaksanaan ibadah dalam
agama islam, seperti waktu shalat, puasa ramadhan, arah qiblat,dan sebagainya.
Ilmu
astronomi (ilmu falak) berbeda dengan ilmu astrologi. Adapun astrologi adalah
ilmu yang mempelajari benda-benda langit dengan tujuan untuk mengetahui
pengaruh benda-benda langit itu terhadap kehidupan (nasib) seseorang di
bumi.Astrologi lebih dikenal dengan ilmu nujum.
Perkembangan Astronomi Tiap Periode
Periode 1 (Zaman Purbakala –
1500M)
Perkembangan
Astronomi sebenarnya sudah terdeteksi sekitar 1000 SM tepatnya zaman sumeria
dan babilonia. Mereka mengamati berbagai keteraturan dan mampu meramalkan
gerhana bulan, dan peredaran planet. Bangsa mesir sudah menemukan bahwa satu
tahun terdiri dari 365 hari. Akan tetapi, pada zaman sumeria belum menemukan
pengetahuannya dalam bentuk gambaran. Gambaran mengenai alam semesta memang ada
namun masih bersifat spekulatif belaka. Mereka beranggapan bahwa bumi dan
langit berbentuk cakram datar yang saling tumpang tindih.
Ciri-ciri periode Pertama:
Ø Belum ada
penelitian yang sistematis.
Ø Bersifat
spekulatif.
Ø Pergerakan
benda-benda langit dianggap memiliki kekuatan magis.
Ø Pada
periode pertama ini dikumpulkan berbagai fakta fisis yang dipakai untuk membuat
perumusan empirik.
Untuk pengkajian lebih dalam kita akan membahas
tokoh – tokoh penting yang sangat berperan dalam perkembangan astronomi pada periode
satu ini.
1.
Anaximander (610-546 SM)
Seorang
filusuf Yunani yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Astronomi”. Ia menganggap
bentuk Bumi sebagai silinder dan angkasa berputar tiap hari mengelilinginya.
2.
Anaxagoras (500-478 SM)
Mengajarkan
bahwa Matahari sebuah batu panas dan bulan tidak memancarkan cahaya sendiri
tapi mendapat penerangan dari Matahari. Dia juga menerangkan mengenai Gerhana
Matahari.
3.
Aristoteles (348-322 SM)
Ia adalah
murid Plato, dan dianggap sebagai bapak filsafat dan ilmuan sepanjang sejarah.
Bumi menurutnya adalah pusat jagat raya (geosentris). Sedangkan dilangit (alam
semesta bagian atas) terdapat planet-planet, bintang, matahari, dan bulan yang
gerak alamiah mereka adalah melingkar sempurna, continue dan tak
terbatas.
4.
Erastostenes (276-196 SM)
Ia bukan
orang Yunani tetapi orang Mesir. Pemikiran Erastostenes terpenting adalah
mengenai keliling lingkaran bumi. Erastostenes melakukan pengukurn keliling
bumi dari dua kota : Alexandria (mesir dan Syene yang berjarak + 787 km. pada
musuim panas di Alexandia sinar matahari jatuh tegak lurus pada tengah hari,
sedangkan di Syene sinar matahari, membentuk sudut 7.2o. dari data
ini Erastostenes menghitung bahwa keliling bumi + 46.250 km. pengukurannya
didasarkan pada asumsi bahwa bumi berbentuk bulat, tidak datar. Erastostenes
berhasil mengukur jarak bumi – matahari dan jarak bulan – bumi.
5.
Thales
Pengamatan
fenomena langit sebenarnya telah dilakukan sejak zaman kuno oleh orang-orang
China, Mesopotamia, dan Mesir. Tetapi astronomi sebagai ilmu, baru berkembang
di Yunani pada abad ke-6 SM. Penelitian tentang astronomi di Yunani diawali
oleh Thales. Ia mengemukakan sebuah pendapat bahwa Bumi itu berbentuk bulat,
setelah itu Aristoteles mengeluarkan terobosan yang penting dua abad kemudian
yang menyatakan bahwa Bumi itu bulat budar dengan dukungan dari beberapa buku
ilmiah.
6.
Phytagoras (560 – 480 SM)
Ia
berpendapat bahwa jagat raya bersipat harmonic (cosmos) atau tidak kacau
(chaos) dalam hal keharmonisan alam, mazhab phytagorean merujuk pada teorinya
bahwa keharmonisan alam memiliki kesesuaian dengan harmoni pada music.
Menurutnya suara music ditentukan oleh pengaturan interval dari panjang
pendeknya senar. Konsep keharmonisan konsep ini kemudian dijadikan prinsip umum
untuk menjelaskan gagasan tentang keharmonisan jagat raya dan semua gerakan
planet menyuarakan suara harmoni yang mewakili perbedaan notasi music. Teori
ini yang kemudian disebut harmoni of the spheres berpengaruh luas, bahkan
Johanes Kepler pada permulaan spekulasinya menganggap bahwa perbedaan gerakan
antar planet ditentukan oleh perbedaan oktaf yang ada pada skala musik.
7.
Aristarchus (310-230 SM)
Ia merupakan
orang pertama yang berbeda pandangan tentang pusat jagat raya. Menurutnya bukan
bumi sebagai titik pusat, tetapi mataharilah sebagai titik pusat (helio
sentris). Dia memperbaiki teori cosmogonic Philolaus dan menyatakan bahwa pusat
api tidak ada. Dengan matahari sebagai pusat dan bumi serta planet-planet lain
mengelilinginya. Teori ini merupakan pengantar kepada teori Heliosentris
cosmogonic 2000 tahun kemudian.
Teori ini sebenarnya tidak
memperoleh kemajuan bagi pemikiran bangsa Yunani dan hilang hampir 200 tahun,
karena pengaruh ajaran Aristoteles dengan hipotesanya mengenai teori Geosentris
yang sangat diyakini orang pada saat itu dan tidak sesuai dengan keyakinan
agama yang berkembang saat itu yang lebih sejalan pola pikirnya terhadap pola
geosentris.
8.
Archimedes (287-212 SM)
Ia adalah
sosok ilmuan yang telah memberikan kontribusi yang
besar bagi peradaban. Seperti penemuan skrup air, yakni alat untuk menarik air
dari tempat yang rendah ke tempat yang tinggi dimana air akan mengikuti putaran
skrup ke atas, sampai pada pengamatan benda-benda angkasa deng observasi yang
akurat. Bahkan Chasles mencatat bahwa karya Integral Archimedes memberikan
sumbangan besar bagi kepler dan Newton dalam penentuan hokum-hukumnya secara
matematis.
Dia telah
mengenal teori gravitasi. Menyokong
teori Aristarkus, bahwa bumi berputar setiap hari mengelilingi sumbunya dan
berputar mengelilingi matahari tiap tahunnya dengan lintasan berbetuk
lingkaran. Matahari dan bintang-bintang tetap diam, sedangkan pada planet
bergerak berbentuk lingkaran dengan matahari sebagai pusatnya.
9.
Hipparchus (abad ke-2 SM)
Pola
pemikirannya menjadi pijakan bagi Ptolemy khususnya mengenai perkiraan equnox
(situasi siang dan malam sama panjang)
- Dia menunjukkan bahwa Vernal Equinox (titik musim panas) bergerak
sepanjang lingkaran ekliptika dengan kecepatan 36 detik busur dalam
setahun, sedangkan di zaman modern sekarang ini 50 detik. Akibat perputarn
Equinox, Bumi berputar pola mngenai sumbunya. Bidang yang melalui lintasan
Matahari dan melalui keliling Bumi, disebut “ekliptika”.
- Dia telah menemukan trigonometri dan memberikan tabel dari
sudut-sudut sinusnya. Dia mengukur lamanya tahun tropik yaitu 365 hari 5
jam 54 menit. Untuk mendapatkan harga ini, Hipparcus menggunakan observasi
Aristarchus. Harga yang didapat sekarang, yang berbeda 5 menit 14 detik.
Dia meyakini teori cosmogonic geosentris.
Selain itu,
Ia membuat sebuah katalog 850 bintang dengan teliti yang dibagi kedalam enam
kelompok kecerlangan atau magnitudo; bintang paling cemerlang dengan magnitudo
1 dan yang paling lemah (yang tampak dengan mata telanjang) dengan magnitudo 6.
Suatu sistem magnitudo yang disesuaikan masih digunakan dewasa ini. Hipparkus
menemukan bahwa posisi bumi agak goyah di antariksa, suatu efek yang disebut
Presesi.
10.
Ptolomeus (abad ke-2 SM)
Ia adalah pengumpul
data astronomis yang teliti. Ia mengembangkan sebentuk sistem tata surya yang
membela gerakan melingkar dengan bumi sebagai pusatnya. Seorang ilmuwan Yunani
yang menyusun gambaran baku mengenai Alam semesta yang dipakai oleh para ahli
astronomi hingga jaman Renaissance. Menurut Ptolomeus, Matahari, Bulan, dan
planet-planet beredar mengelilingi Bumi dengan suatu sistem yang rumit. Ptolemy
mengajukan dua komponen gerak. Yang pertama, gerak dalam orbit lingkaran yang
seragam dengan periode satu tahun pada titik yang disebut deferent. Gerak yang
kedua disebut epycycle, gerak seragam dalam lintasan lingkaran dan
berpusat pada deferent.
Teori ini
akhirnya ditentang dan dibuktikan kesalahannya oleh pandangan Copernicus.
Ptolomeus menulis ensiklopedi besar astronomi Yunani yang disebut Almagest.
11.
Nicolaus Copernicus (1473-1543
M)
Sosok ilmuan
yang dengan berani mematahkan paradigma geosentris yang sudah bertahan ratusan
tahun sebelumya dengan menungkap bahwa bukan bumi sebagai pusat edar melainkan
matahari (heliosentris)
Teorinya didukung oleh
pengamatan Galileo dan dibenarkan oleh perhitungan Johannes Kepler. Tiga belas
abad lebih konsep Geosentris diterima masyakat dunia. Pada tahun 1512 dibukalah
sejarah baru oleh Copernicus yang mengemukakan bahwa Planet dan Bintang
bergerak mengelilingi Matahari dengan orbit Melingkar. Sejak pernyataannya
inilah konep heliosentris mulai diterima oleh dunia.
Periode II (sekitar 1550 –
1800 M)
Perkembangan
ilmu astronomi pada periode II terjadi sangat pesat. Banyak sumbangan-sumbangan
yang telah diberikan oleh para ahli dalam perkembangan astronomi. Selain itu,
pada periode II ini terjadi perubahan sarana pengamatan yaitu dari pengamatan
benda langit yang menggunakan mata telanjang menjadi pengamatan yang menggunakan
teleskop. Tokoh-tokoh yang berperan penting dalam perkembangan astronomi pada
periode II adalah sebagai berikut:
1.
Tycho Brahe (1546-1601)
Ia
memberikan sumbangsih bagi perkembangan astronomi luar biasa besarnya. Dia
bukan hanya merancang dan membangun instumentasi yang revolusioner, tetapi juga
melakukan pengamatan yang berulang-ulang. Sejumlah orbit planet yang bersifat
anomali, yang sebelumnya belum pernah tercatat, oleh Thyco kemudian ditampilan
secara komplit, tanpa bantuan thyco ini, kepler tidak mungkin bisa menemukan
bahwa planet-planet bergerak di dalam orbit berbentuk elips. Ia juga tercatat
sebagai astronom pertama yang membuat koreksi terhadap pembiasan oleh atmosfer.
Brahe adalah seorang astronom. Selama 20 tahun, ia hanya membuat observasi
planet-planet secara sistematis, membuat daftar dari bintang, pengumpulan data
Astronomi yang lain hanya dengan ketelitian yang mungkin tanpa teleskop.
- Dia mengintroduksikan koordinat Astronomi
modern, menentukan deklinasi, tinggi bintang dan sebagainya.
- Di Prague, ia menyelesaikan tabel gerak planet
dengan bantuan asistennya Johannes Kepler (1571-1630). Setelah kematian
Brahe, Kepler menelaah data yang ditinggalkan Brahe dan menemukan bahwa
orbit planet tidak sirkular melainkan eliptik. Kepler kemudian
mengeluarkan tiga hukum gerak orbit yang dikenal sampai saat ini.
2.
Rene Descartes (1596-1650)
Ia
berpendapat bahwa jagat raya tersusun atas materi-matei yang berputar, yang ia
sebut vortex. Menurutnya sebuah benda memiliki kecenderungan untuk diam atau
bergerak beraturan dalam garis lurus. Akibatnya lintasan alamiah sebuah planet
merupakan sebuah garis lurus bukan merupakan lingkaran seperti pendapat
Galileo. Sebuah planet tidak akan menyimpang tiba-tiba kecuali ada pengaruh
lain yang memaksanya berbelok dari lintasan. Alamiahnya. Inilah tekanan vortex
yang menahan sebuah planet dalam lintsan orbitnya. Ia menyatakan bahwa alam
semesta secara keseluruhan dibangun oleh materi dan gerak, dari sinilah
kemudian Descartes dianggap telah melucuti jagat raya hingga tinggal materi dan
gerak.
3.
Johannes Kepler (1571-1630)
Kontribusdi
kepler pada perkembangan astronomi adalah mengenai 3 hukumnya yang ia nyatakan
berdasarkan data yang diperoleh dari Thyco Brahe yang telah melakukan
penelitian dan pencatatan sebelumnya, tiga hukum itu adalah :
1)
Lintasan dari tiap-tiap planet adalah ellips dengan matahari sebagai
titik fokusnya.
2)
Garis yang menghubungkan planet dengan matahari akan melukiskan luas
yang sama pada saat-saat waktu yang sama.
3)
Kuadrat periode planet-planet itu sebanding dengan pangkat tiga jarak
rata-ratanya ke matahari.
Walaupun
telah mengeluarkan ketika hukumnya, Kepler masih belum dapat menjawab mengapa
planet-planet dapat bergerak? dan kenapa planet-planet yang sebelah luar
pergerakannya lebih lambat? Akhirnya pertanyaan-pertanyaan kepler ini dapat
dijawab oleh Newton dengan hukum gravitasi umumnya.
Hukum
Kepler tentang gerakan planet adalah sumbangannya yang terbesar bagi ilmu
pengetahuan. Hukum ini berdampak besar terhadap pemikiran ilmiah dan kelak
menyediakan landasan bagi karya Sir Isaac Newton mengenai gaya tarik bumi.
Namun, Kepler juga memberikan banyak sumbangan lain kepada ilmu pengetahuan.
Dia menemukan bintang baru (supernova), menganalisis cara kerja mata manusia,
meningkatkan kemampuan teleskop, dan beberapa sumbangan dalam bidang optik. Dia
mempublikasikan data akurat mengenai kedudukan bintang dan planet yang sangat
berharga bagi para pelaut. Dia memberikan sumbangan kepada matematika, termasuk
cara penghitungan yang lebih cepat dan cara menentukan volume banyak benda
padat.
4.
Galileo Galilei (1564-1642)
Pada
tahun 1609 Galileo merakit teropong dengan mengembangkan teknologi rancangan
Hans Lippershey yang diperkenalkan setahun sebalumya ia mengarahkan teopong
kelangit malam. Dalam tempo beberapa jam longsorlah paradigma-paradigma yang
paling disayangi atau diyakini saat itu. Seperti :
1)
Ia melihat permukaan bulan ternyata tidak mulus dan bulat sempurna.
Pengamatan ini bertentangan dengan kepercayaan Yunani kuno yang menegaskan
kesempurnaan benda langit. Pada permukaan bulan kelihatan bergunung-gunung dan
berlembah-lembah seperti di bumi. Ia juga melihat noktah-noktah pada permukaan
matahari;
2)
Ia melihat ada 4 ”planet kecil” yang sekarang disebut bulan yang
mengitari jupiter. Pengamatan ini adalah bukti telak bahwa tidak semua benda
langit mengitari bumi;
3)
Ia melihat fase-fase venus sebagaimana bulan. Bentuk venus
kelihatan berubah antara sabit sampai purnama secara teratur.
4)
Ia mengamati bintang melalui teropong, ternyta bintang itu tidak lebih
besar, melainkan tetap berupa bintik kecil. Ini menunjukan bahwa
bintang-bintang memang jauh sekali dari bumi. Juga bima sakti terlihat dengan
teropong bukan sebagai bentangan kabut malar, melainkan ribuan bintang yang
belum pernah dlihat oleh mata manusia.
5.
Sir Isaac Newton (1642-1727)
Ia adalah
orang yang berhasil merumuskan hukum gravtasi universal yang sangat berperan
untuk memahami perilaku pergerakan planet-planet yang diformulasikan
berdasarkan data-data yang diperoleh dari ilmuan-ilmuan sebelumnya termasuk
kepler.
6.
George comte de Buffon (1701-1788)
George comte dari Perancis,
mempostulatkan teori dualistik dan katastrofi yang menyatakan bahwa tabrakan
komet dengan permukaan matahari menyebabkan materi matahari terlontar dan
membentuk planet pada jarak yang berbeda. Kelemahannya Buffon tidak bisa
menjelaskan asal komet. Ia hanya mengasumsikan bahwa komet jauh lebih masif
dari kenyataannya.
7.
Edmond Halley (1656-1742)
Seorang
ahli astronomi Inggris yang di tahun 1705 memperhitungkan bahwa komet yang
terlihat dalam tahun-tahun 1531, 1607 dan 1682 sesungguhnya adalah benda yang
sama yang bergerak dalam satu garis edar tiap 75 atau 76 tahun mengedari
matahari. Komet tersebut kini dikenal sebagai Komet Halley. Dalam tahun 1720,
Halley menjadi ahli astronomi kerajaan yang kedua, Di Greenwich ia membuat
studi yang memakan waktu lama mengenai gerakan bulan.
8.
Games Bradley (1693-1762)
Seorang
ahli astronomi Inggris yang menemukan penyimpangan yang disebut Aberasi Sinar
Cahaya di tahun 1728, yaitu bukti langsung pertama yang dapat diamati bahwa
Bumi beredar mengelilingi Matahari. Dari besarnya penyimpangan ia menghitung
kecepatan cahaya sebesar 295.000 km/dt. Hanya sedikit lebih kecil dari nilai
sebenarnya (299.792,4574 km/dt, US National Bureau of Standards).
9.
Immanuel Kant (1724-1804)
Seorang filsuf Jerman yang
pada tahun 1755 mengajukan cikal-bakal teori modern tentang tata surya. Kant
percaya bahwa planet-planet tumbuh dari sebuah cakram materi di sekeliling
Matahari, sebuah gagasan yang kemudian dikembangkan oleh Marquis de Laplace.
Kant juga berpendapat bahwa nebula suram yang terlihat di antariksa adalah
galaksi tersendiri seperti galaksi Bima Sakti kita. Pendapat tersebut kini
telah terbukti kebenarannya.
10. Sir
William Herschel (1738-1822)
Seorang ahli astronomi
Inggris, lahir di Jerman, yang menemukan planet Uranus pada tanggal 17 Maret
1781 beserta dua satelitnya dan juga dua satelit Saturnus. Herscel membuat
survey lengkap langit utara dan menemukan banyak bintang ganda dan nebula. Untuk
menangani pekerjaan ini, ia membangun sebuah reflektor 122 cm, terbesar di
dunia saat itu. Survey langit Herschel itu meyakinkan bahwa galaksi kita berupa
sistem bintang berbentuk lensa, dengan kita di dekat pusat. Pandangan ini
diterima hingga jaman Harlow Shapley.
11. Charles
Messier (1730-1817)
Seorang ahli astronomi
Prancis yang menyusun sebuah daftar berisi lebih dari 100 kelompok bintang dan
nebula. Hingga sekarang, banyak diantara objek ini yang masih disebut dengan
nomor Messier atau M, seperti M1, nebula Kepiting, dan M31, galaksi Andromeda.
12. Laplace,
Pierre Simon, Marquis de (1749-1827)
Seorang
ahli matematika Prancis yang mengembangkan teori asal mula tata surya yang
digagas oleh Immanuel Kant. Di tahun 1796, Laplace melukiskan bagaimana cincin-cincin
materi yang terlempar dari Matahari dapat memadat menjadi planet-planet.
Perincian teori tersebut telah ditinjau kembali, tetapi pada pokoknya tidak
berbeda dengan teori-teori modern mengenai awal-mula terjadinya tata surya.
Periode
III (1800M – 1890M)
Pada periode ini diformulasikan konsep-konsep fisika yang
mendasar yang sekarang kita kenal dengan sebutan Fisika Klasik Tokoh-tokoh
astronomi pada periode tiga dan kontribusinya dalam perkembangan astronomi
adalah:
1.
William
Hyde Wollaston
Pada 1802,Ia mencatat keberadaan sejumlah garis-garis gelap
dalam spectrum matahari.
2.
Urbain
Jean Joseph Leverrier (1811-1877)
Seorang ahli matematika Prancis yang memperhitungkan
keberadaan planet Neptunus. Saat memeriksa gerakan Uranus, ia menemukan bahwa
gerakannya dipengaruhi oleh sebuah planet tak dikenal. Perhitungan Leverrier
memungkinkan penemuan Neptunus oleh Johann Galle.
3.
Johann
Gottfried Galle (1812-1910)
Seorang ahli astronomi Jerman yang menemukan planet
Neptunus. Dengan menggunakan perhitungan Urbain Leverrier, Galle menemukan
Neptunus pada malam hari, di tanggal 23 September 1846, dari Observatorium
Berlin bersama dengan Louis d’Arrest, seorang mahasiswa Astronomi, tidak
seberapa jauh dari posisi yang semula diperhitungkan. Walaupun Galle merupakan
orang pertama yang berhasil mengobservasi Neptunus secara visual, namun yang
dipandang sebagai penemu sebenarnya adalah John Couch Adams (yang membuat
kalkulasi awal) dan Le Verrier.
4.
Joseph
von Fraunhofer (1814)
Sebelumnya garis-garis gelap dalam spektrum matahari telah
ditemukan keberadaannya oleh William Hyde Wollaston. Pada tahun 1814,
Fraunhofer menciptakan spektroskop dan secara mandiri menemukan kembali
garis-garis tersebut, memulai sebuah studi sistematik dan melakukan pengukuran
seksama terhadap panjang gelombang garis-garis ini. Dia mencatat dan memetakan
sejumlah garis-garis gelap dalam spektrum matahari jika cahayanya dilewatkan pada suatu prisma. Secara keseluruhan, dia memetakan
lebih dari 570 garis, dan menandai fitur-fitur utama dengan huruf A hingga K,
dan garis-garis yang lebih lemah dengan huruf lainnya. Garis-garis ini kemudian
disebut sebagai garis-garis Fraunhofer.
Fraunhofer juga menemukan bahwa bintang-bintang lain juga
memiliki spektrum seperti Matahari, tetapi dengan pola garis-garis gelap yang
berbeda.
Menemukan bahwa seperangkat garis-garis gelap dalam spektrum
matahari berhubungan dengan suatu element
kimia yang
berada di lapisan atas matahari. Beberapa dari garis yang teramati juga
merupakan serapan oleh molekul-molekul oksigen di atmosfer bumi.
6.
John
Ludwig Emil Dreyer (1852-1926)
Seorang ahli astronomi Denmark yang menghimpun sebuah
katalog utama yang memuat hampir 8000 kelompok bintang dan Nebula. Katalog yang
disusunnya disebut Katalog Umum Baru (the New General Catalogue, NGC).
Merupakan seorang astronom Yesuit, melakukan penyelidikan terhadap
4000 spektrum bintang hasil pengamatan yang dilakukannya menggunakan prisma
obyektif. Hanya dengan menggunakan mata, Secchi menggolongkan bintang-bintang
tersebut ke dalam tiga kelas. Bintang dengan garis-garis serapan sangat kuat
dari atom hidrogen digolongkan sebagai tipe I berwarna putih, bintang dengan
garis-garis serapan sangat kuat dari ion logam digolongkan sebagai tipe II
berwarna kuning, dan bintang dengan pita-pita serapan lebar digolongkan sebagai
tipe III berwarna merah. Setahun kemudian Secchi memasukkan beberapa bintang
yang memiliki garis-garis serapan dengan pola yang aneh, jarang ada, mirip tetapi
tidak terlalu sama dengan pola tipe III, dan menggolongkannya sebagai tipe IV.
8.
James
Jeans (1877-1946)
Astronomi
Inggris, J. Jeans mengemukakan Tata Surya merupakan hasil interaksi antara
bintang dan matahari. Perbedaan ide yang ia munculkan dengan ide Chamberlin–Moulton
terletak pada absennya prominensa. Menurut Jeans dalam interaksi antara
matahari dengan bintang yang melewatinya, pasang surut yang ditimbulkan pada
matahari sangat besar sehingga ada materi yang terlepas dalam bentuk filamen.
Filamen ini tidak stabil dan pecah menjadi gumpalan-gumpalan yang kemudian
membentuk proto planet. Akibat pengaruh gravitasi dari bintang proto planet
memiliki momentum sudut yang cukup untuk masuk ke dalam orbit di sekitar
matahari. Pada akhirnya, efek pasang surut matahari pada proto planet saat
pertama kali melewati perihelion memberikan kemungkinan bagi proses pembentukan
planet untuk membentuk satelit.
9.
Edward
Charles Pickering (1886)
Pemakaian fotografi dalam astronomi membuka kesempatan
lebih luas dalam mempelajari spektrum bintang. Edward Charles memulai penyelidikan spektrum
bintang secara fotografi dengan prisma obyektif di Observatorium
Harvard, Amerika Serikat. Berdasarkan pekerjaan awal Secchi, para astronom di Harvard mengklasifikasikan bintang
berdasarkan kuat garis-garis serapan pada deret Balmer dari hidrogen netral,
memperluas penggolongan dan menamakan kembali penggolongan dengan huruf A, B, C
dan seterusnya hingga P, dimana bintang kelas A memiliki garis serapan atom
hidrogen paling kuat, B terkuat berikutnya dan seterusnya.
10. Chamberlin (1890)
Chamberlin menawarkan solusi untuk teori nebula Laplace. Ia
menawarkan adanya satu akumulasi yang membentuk planet atau inti planet (objek
kecil terkondensasi di luar materi nebula) yang kemudian dikenal sebagai
planetesimal. Menurut Chamberlin, planetesimal akan bergabung membentuk proto
planet. Namun karena adanya perbedaan kecepatan partikel dalam dan partikel
luar, dimana partikel dalam bergerak lebih cepat dari partikel luar, maka objek
yang terbentuk akan memiliki spin retrograde.
Periode IV (1890M –
Sekarang)
Pada
periode ini, Pada akhir abad ke 19 ditemukan beberapa fenomena yang tidak bisa
dijelaskan melalui fisika klasik. Hal ini menuntut pengembangan konsep fisika
yang lebih mendasar lagi yang sekarang disebut Fisika Modern. para ahli
astronomi melakukan pengamatan di observatorium dengan menggunakan teleskop
untuk mengamati objek langit. Setelah ditemukannya kanal di planet Mars, para
ahli astronomi terobsesi untuk meneliti planet mars. Selain itu, pada peiode
ini diyakini bahwa ada anggota tata surya ke-9 setelah neptunus. Pada periode
ini juga, para ahli astronomi yakin bahwa alam semesta ini tetap. Kemudian
terjadi revolusi dalam bidang astronomi yang dilakukan oleh Hubble yang
mengatakan bahwa alam semesta ini mengembang dan ditemukannya galaksi lain di luar
galaksi kita. Tokoh-tokoh pada periode ini adalah:
1. Giovanni Schiaparelli (1835-1910)
Seorang
ahli astronomi Italia yang pertama kali melaporkan adanya canali di permukaan
planet Mars ketika planet tersebut mendekat di tahun 1877. Dalam bahasa italia,
canali berarti selat, namun ketika diterjemahkan ke dalam bahasa inggris
menjadi terusan atau saluran air, sehingga menimbulkan implikasi adanya
bangunan buatan di planet Mars. Selain itu, ia juga menunjukkan bahwa hujan
meteor mengikuti garis edar sama seperti komet. Dari sana, ia menduga bahwa
hujan meteor sebenarnya adalah puing sebuah komet.
2. Percival Lowell (1855-1916)
Selain di
Italia ‘demam’ Mars juga terjadi di Amerika. Salah seorang ahli astronomi yang
terobsesi untuk meneliti planet Mars adalah Percival Lowell. Hal ini terbukti
dengan didirikannya observatorium Lowell yang didirikan dengan tujuan untuk
memetakan canal di planet Mars. Dari hasil pengamatannya, dia memetakan
saluran-saluran di Mars dan percaya tentang adanya kehidupan di planet tersebut.
Kemudian dia menerbitkan peta kanal di planet Mars, lengkap dengan globe mars.
Akan tetapi, para astronom lainnya yang juga sama-sama meneliti planet Mars,
tidak menemukan adanya saluran-saluran di planet Mars. Bahkan pada abad ke 20,
ketika berbagai wahana antariksa dikirim ke planet Mars, kanal-kanal yang
digambarkan Lowell tidak ada. Selain meneliti tentang planet Mars, Lowell juga
mempercayai adanya planet lain setelah Neptunus yang belum ditemukan. Ia mulai
mencarinya di langit dengan bantuan gambar foto. Namun sayang, ia gagal
menemukannya.
3. Annie Jump Cannon (1863-1941)
Dia
merupakan ahli astronomi dari Amerika. Tahun 1920-an, ia bekerja sama dengan
Observatorium Harvard telah mengklasifikasikan bintang berdasarkan spektrumnya.
Berdasarkan klasifikasi tersebut, bintang dibagi menjadi 7 kelas utama yang
dinyatakan dengan huruf O, B, A, F, G, K, dan M. Untuk mengingat klasifikasi
ini, biasanya digunakan kalimat “Oh Be A Fine Girl
Kiss Me”. Klasifikasi tersebut juga menunjukkan urutan suhu,
warna dan komposisi kimianya. Bintang-bintang kelas O, B, dan A seringkali
disebut sebagai kelas awal, sementara K dan M disebut sebagai kelas akhir.
Klasifikasi bintang yang dikembangkan oleh Annie Jump Cannon ini diadopsi
secara internasional pada tahun 1910.
4. Henrietta Leavitt (1868-1921)
Seorang
ahli astronomi Amerika yang melakukan penelitian mengenai awan Magellan. Dari
penelitiannya, diperoleh hubungan antara periode dengan luminositas. Dengan
mengukur waktu variasi cahaya sebuah Cepheid, para astronom dapat memperoleh
kecemerlangan sebenarnya, dengan demikian jaraknya dari bintang dan planet lain
dapat dihitung.
5. Albert Einstein (1879-1955)
Pada
tahun 1917 Einstein memperkenalkan teori relativitas umum yang menghasilkan
model alam semesta berdasarkan teorinya tersebut. Dia menyebutkan bahwa ruang
dipengaruhi gravitasi. Teorinya tersebut menggambarkan bahwa alam semesta
berkembang. Namun, ia menyatakan bahwa hal tersebut tidak wajar sehingga
memperbaharui teorinya dan menyatakan bahwa alam semesta tetap dan tidak
bergerak. Setelah ditemukannya bukti bahwa alam semesta ini mengembang oleh
Hubble, Einstein menyadari dan mengatakan bahwa revisinya tentang teori alam
semesta yang dibuatnya sendiri merupakan kekeliruan terbesar dalam hidupnya.
6. Harlow Shapley (1885-1972)
Seorang
ahli astronomi Amerika yang pertama kali menghitung ukuran sebenarnya dari
galaksi milky way dengan menggunakan teknik pengukuran yang ditemukan oleh
Henrietta Leavitt, dan menunjukkan bahwa Matahari tidak terletak di pusatnya.
Dengan mengukur jaraknya dari kecerlangan bintang, ia memperkirakan bahwa
galaksi kita kira-kira berdiameter 100.000 tahun cahaya dan bahwa Matahari
terletak kira-kira 30.000 tahun cahaya dari pusatnya. Ia juga membuat taksiran
jarak awan Magellan besar dengan awan Magellan kecil dengan cara membandingkan
periode Cepheid di awan Magellan tersebut dengan Cepheid di Milky way. Namun,
pada awal tahun 1950 disadari bahwa perhitungannya kurang tepat, karena dalam
perhitungannya ia melibatkan Cepheid-cepheid dari tipe yang berbeda.
7. Edwin Hubble (1889-1953)
Seorang
ahli astronomi Amerika yang bekerja di observatorium Mount Wilson California.
Ia membuat banyak rekaman gambar astronomi dengan menggunakan teleskop Hooker
berdiameter 250 cm. Kemudian, ia menunjukkan bahwa terdapat galaksi lain di
luar galaksi Milky way. Selanjutnya ia mengelompokkan galaksi-galaksi yang ia
temukan menurut bentuknya yang spiral atau eliptik. Selain itu, ketika Hubble
mengamati sejumlah bintang melalui teleskop raksasanya di Observatorium Mount
Wilson, dia menemukan bahwa cahaya bintang-bintang itu bergeser ke arah ujung
merah spectrum, Pergeseran itu berkaitan langsung dengan jarak bintang-bintang
dari bumi. Penemuan ini mengguncangkan teori model alam semesta yang dipercaya
saat itu.
Menurut
aturan fisika yang diketahui, spektrum berkas cahaya yang mendekati titik
observasi cenderung ke arah ungu, sementara spektrum berkas cahaya yang
menjauhi titik observasi cenderung ke arah merah. Pengamatan Hubble menunjukkan
bahwa menurut hukum ini, benda-benda luar angkasa menjauh dari kita. Tidak lama
kemudian, Hubble membuat penemuan penting lagi, yaitu bahwa bintang-bintang
tidak hanya menjauh dari bumi, tetapi juga menjauhi satu sama lain.
Satu-satunya kesimpulan yang bisa diturunkan dari alam semesta di mana segala
sesuatunya saling menjauh adalah bahwa alam semesta dengan konstan
“mengembang”. Pendapatnya ini menjadi bukti kuat kebenaran teori big bang. Jika
alam semesta mengembang semakin besar sejalan dengan waktu, berarti jika mundur
ke masa lalu berarti alam semesta semakin keci dan akan mengerut kemudian
bertemu pada satu titik. Kesimpulan yang harus diturunkan dari model ini adalah
bahwa pada suatu saat, semua materi di alam semesta ini terpadatkan dalam massa
satu titik yang mempunyai volume nol karena gaya gravitasinya yang
sangat besar. Alam semesta kita muncul dari hasil ledakan massa yang mempunyai
volume nol ini. Ledakan ini mendapat sebutan big bang dan keberadaannya
telah berulang-ulang ditegaskan dengan bukti pengamatan.
Untuk
menunjang penelitiannya mengenai alam semesta, Hubble meyakinkan pengelola
observatorium untuk memasang teleskop yang lebih besar. Instrumen pada desain
teleskop Hale yang bediameter 500 cm ditentukan oleh Hubble sendiri. Tetapi
belum juga selesai untuk melakukan penelitiannya, ia meninggal pada tanggal 28
September 1953 di San Marino.untuk mengenang jasanya yang sangat besar dalam
bidang astronomi, teleskop terbaik yang pernah dibangun di luar angkasa dan
masih beroperasi sampai sekarang diberi nama Teleskop ruang angkasa Hubble
(HST).
8. Georges Lemaitre (1894-1966)
Seorang
ahli astronomi Belgia yang pertama kali menyadari arti dari perhitungan
Friedman. Berdasarkan perhitungan ini, pada tahun 1927 ia mencetuskan teori
Ledakan Besar kosmologi yang menyatakan bahwa alam semesta dimulai dengan suatu
ledakan besar dahulu kala dan bahwa sejak itu kepingannya masih terus
beterbangan. Lemaitre mendasarkan teorinya pada pengamatan Edwin Hubble
mengenai alam semesta yang mengembang.
9. George Gamow (1904-1968)
Dia
adalah seorang ahli astronomi Amerika yang merupakan pendukung teori Big Bang.
Pada tahun 1948, dengan mengembangkan perhitungan yang sebelumnya telah
diungkapkan oleh George Lemaitre, Gamow menghasilkan gagasan baru mengenai
Dentuman Besar. Jika alam semesta terbentuk dalam sebuah ledakan besar yang
tiba-tiba, maka harus ada sejumlah tertentu radiasi yang ditinggalkan dari
ledakan tersebut. Radiasi ini harus bisa dideteksi, dan harus sama di seluruh
alam semesta.
Bukti ini
pada akhirnya diketemukan pada tahun 1965, oleh dua peneliti bernama Arno
Penziaz dan Robert Wilson. Keduanya menemukan gelombang ini tanpa sengaja.
Radiasi yang disebut “radiasi latar kosmis” tersebut tidak terlihat memancar
dari satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa.
Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari
tahapan awal peristiwa Big Bang.
10. G. P. Kuiper (1905-1973)
Dia
adalah seorang astronom dari Belanda. Tahun 1950, dia menjadi astronom perintis
yang mengemukakan “Hipotesis Kondensasi”. Hipotesis ini menjelaskan bahwa tata
surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.
Kemudian, tahun 1951 ia pun memberikan usulan lain mengenai sistem tata surya.
Usulan tersebut berdasarkan argumentasi bahwa semestinya materi-materi dari
piringan nebula pembentuk tata surya berkurang secara gradual ke arah tepi
piringan. Usulan ini kemudian diperkuat oleh analisis dinamika komet-komet
periode pendek yang menunjukkan bahwa komet-komet berasal dari “sarang” komet
yang terletak di luar orbit Neptunus. Kawasan ”sarang” komet yang diduga berisi
sekitar 35.000 objek batuan mengandung es itu kini dikenal sebagai sabuk
Kuiper.
11. Clyde Tombaugh (1906-1997)
Ahli
astronomi Amerika yang pada bulan Februari 1930 menemukan Pluto dengan
mempergunakan gambar-foto yang diambil di observatorium Lowell. Setelah
penemuan Pluto, Tombaugh melanjutkan survey foto sekeliling langit untuk
mencari planet lain yang mungkin ada, tetapi tidak berhasil menemukan apapun.
Pluto sempat dianggap sebagai planet kesembilan di tata surya hingga status
keplanetannya dicabut oleh IAU pada Agustus 2006.
12. Carl von Weizsacker (1912-….)
Seorang
astronom Jerman yang dalam tahun 1945 menggagas dasar teori-teori modern mengenai
asal mula tata surya. Ia membayangkan bahwa planet terbentuk dari kumpulan
partikel-partikel debu yang berasal dari sebuah cakram yang terdiri dari materi
yang mengelilingi Matahari saat masih muda. Teorinya ini merupakan perubahan
dari teori sebelumnya yang digagas oleh Kant dan Laplace.
13. Sir Fred Hoyle (1915 - …)
Dia
adalah seorang ahli astronomi dari Inggris. Dia dikenal dunia karena pendapatnya
yang menentang teori “Dentuman Besar” (Big Bang). Sekitar pertengahan abad
ke-20, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut “Steady State” (keadaan
tetap) yang mirip dengan teori alam semesta tetap di abad ke-19. Dengan
menerima bukti-bukti yang menyatakan bahwa jagat raya selalu mengembang, dia
berpendapat bahwa alam semesta tidak terbatas baik dalam dimensi maupun waktu.
Menurut teorinya itu, ketika jagat raya mengembang, materi baru muncul dengan
sendirinya dalam jumlah yang tepat sehingga alam semesta tetap berada dalam “keadaan
stabil”. Dengan suatu tujuan jelas mendukung dogma “materi sudah ada sejak
waktu tak terbatas”, yang merupakan basis filsafat materialis, teori ini mutlak
bertentangan dengan teori Dentuman Besar.
Perkembangan
ilmu astronomi pada masa-masa selanjutnya memberikan bukti-bukti baru yang
semakin membenarkan teori ”Dentuman Besar”. Hal inilah yang kemudian memaksa
Hoyle mengakui kesalahannya. Ditambah dengan adanya kejadian dimana Dennis
Sciama yang selama bertahun-tahun menemani Hoyle dalam mempertahankan teori
Steady State mengakui bahwa pertempuran telah usai dan bahwa teori
keadaan-stabil harus ditinggalkan. Sir Fred Hoyle yang akhirnya harus menerima
teori Big Bang, mengatakan dengan tegas bahwa alam semesta ini berasal dari
sebuah ledakan.
14. Alexander Friedman
Pada
tahun 1922, dia menunjukkan ketidakstatisan struktur alam semesta melalui
perhitungannya. Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa impuls yang sangat kecil
pun mungkin cukup untuk menyebabkan struktur keseluruhan mengembang atau
mengerut menurut Teori Relativitas Einstein. Penemuan perhitungan Alexandra
Friedman ini merupakan permulaan dirintisnya teori pembentukan alam semesta
dari sebuah ledakan (Teori Big Bang).
15. Marteen Schmidt (1929-….)
Seorang
ahli astronomi Amerika yang menemukan jarak-jarak kuasar dalam alam semesta. Di
tahun 1963 ia mula-mula mengukur pergeseran merah dari kuasar C 273 yang
ternyata begitu besar sehingga menurut hukum Hubble ia seharusnya terletak jauh
diluar galaksi kita.
16. Carl Sagan (1934-1996)
Seorang
ilmuwan Amerika yang dikenal karena penelitiannya mengenai kemungkinan adanya
bentuk kehidupan diluar planet Bumi. Ia terlibat sebagai peneliti dalam
berbagai misi wahana tak berawak yang diluncurkan oleh NASA, diantaranya adalah
misi Mariner ke planet Venus dan Viking ke planet Mars. Ia banyak berkontribusi
pada sebagian besar misi luar angkasa tak berawak yang bertugas mengeksplorasi
tata surya. Ia pernah mengajukan suatu gagasan tentang pencantuman pesan
universal yang tidak dapat dihapus pada suatu pesawat luar angkasa yang
beranjak meninggalkan tata surya dan dapat dipahami oleh makhluk cerdas luar
angkasa yang (mungkin) akan menemukannya. Pesan pertama yang pernah dikirim ke
luar angkasa berupa plakat emas berukir yang dipasang di satelit luar angkasa,
Pioneer 10. Ia terus memperbaiki rancangannya dan terlibat cukup intens pada
rancangan pesan Voyager Golden Record yang dikirim bersama satelit luar angkasa
Voyager.
17. William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan Edith Kellman
Pada
tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan dan Edith Kellman dari
Observatorium Yerkes memberikan sistem klasifikasi bintang berdasarkan
ketajaman garis-garis spektrum yang sensitif pada gravitasi permukaan bintang.
Gravitasi permukaan berhubungan dengan luminositas yang merupakan fungsi dari
radius bintang. Sistem pengklasifikasian bintang ini kemudian disebut sebagai
Klasifikasi Yerkes atau klasifikasi MKK yang berasal dari inisial para
pengembangnya. Klasifikasi Yerkes atau kelas luminositas membagi
bintang-bintang ke dalam kelas berikut :
- 0 maha maha raksasa (hypergiants)
(penambahan yang dilakukan belakangan)
- I maharaksasa (supergiants)
- Ia maharaksasa terang
- Iab kelas antara maharaksasa terang dan yang
kurang terang
- Ib maharaksasa kurang terang
- II raksasa-raksasa terang (bright giants)
- III raksasa (giants)
- IV sub-raksasa (subgiants)
- V deret utama atau katai (main sequence
atau dwarf)
- VI sub-katai (subdwarfs)
- VII katai putih (white dwarfs)
18. Antony Hewish
Pada
bulan Juli 1967, Antony Hewish dan Jocelyn Bell meneliti “kedipan” quasar.
Kemudian, pada bulan November 1967 mereka mendapat sinyal yang tak biasa
yang berulang setiap 1,3 detik (scruff). Lalu Januari 1968, Hewish
mengumumkan penemuan sumber radio di langit berasal dari bintang neotron yang
berotasi sangat cepat. Dan Digunakan istilah ‘pulsar’ (pulsaring radio source,
sumber radio yang berdenyut) oleh jurnalis Daily Telegraph.
19. John Archibald Wheeler
Seorang
fisikawan Amerika yang pertama kali menggunakan istilah “lubang hitam” pada
tahun 1968. Sebelumnya, Pada tahun 1783 John Mitchell berpendapat: “Bila bumi
memiliki kecepatan lepas 11 km/s, tentu ada planet/bintang lain
mempunyai gravitasi lebih besar”. Mitchell memperkirakan di kosmis terdapat
suatu bintang dengan massa 500 kali massa matahari yang mampu mencegah lepasnya
cahaya dari permukaannya sendiri.
Adapun
Wheeler memberi nama demikian karena singularitas ini tak bisa dilihat. Dan
penyebabnya tidak lain karena cahaya tak bisa lepas dari kungkungan gravitasi
singularitas yang maha dahsyat ini. Daerah di sekitar singularitas atau
lazimnya disebut sebagai Horizon Peristiwa (radiusnya dihitung dengan rumus
jari-jari Schwarzschild R = 2GM/c2 dengan G = 6,67 x
10-11 Nm2kg-2, M = massa
lubang hitam (kg), c = cepat rambat cahaya) menjadi gelap. Itulah
sebabnya, wilayah ini disebut sebagai lubang hitam. Black hole
atau lubang hitam baru-baru ini diduga menarik susunan ruang dan waktu di
sekitarnya sambil berputar, menciptakan gelombang dimana materi kosmis
berselancar di atasnya, demikian diungkapkan para astronom.
Karena
black hole menarik segala sesuatu termasuk cahaya, maka mereka tidak bisa
terlihat. Namun para astronom telah sejak lama mempelajari fenomena-fenomena
yang tampak di sekitar black hole, dan menemukan apa yang mereka sebut sebagai
piringan tambahan – suatu bundaran materi yang biasanya berisi materi-materi
yang dihisap dari bintang-bintang di dekatnya, yang merupakan sumber makanan
black hole.
Black
Hole (Lubang Hitam) ini terbentuk ketika sebuah bintang yang telah menghabiskan
seluruh bahan bakarnya, sehingga jari-jarinya mengecil dan volume menyusut, dan
akhirnya berubah menjadi sebuah lubang hitam dengan kerapatan tak hingga dan
volume nol serta medan magnet yang amat kuat. Kita tidak mampu melihat lubang
hitam dengan teropong terkuat sekalipun, sebab tarikan gravitasi lubang hitam
tersebut sedemikian kuatnya sehingga cahaya tidak mampu melepaskan diri
darinya. Namun, bintang yang runtuh seperti itu dapat diketahui dari dampak
yang ditimbulkannya di wilayah sekelilingnya.
20. Kentaro Osada
Pada
malam 29 Agustus 1975, ia menemukan bintang yang terang (Cygni 1975) yang
merupakan nova yang paling terang pada abad ke-20.
Kemudian,
pada abad ke-19 ini juga ditemukan kabut kepiting yang merupakan sisa ledakan
bintang yang terang (supernova) pada 900 tahun yang lalu.
Dan untuk
pertama kalinya para ilmuwan berhasil merekam ledakan sebuah supernova. Ledakan
bintang, atau supernova, adalah salah satu kejadian paling spektakuler yang
terjadi di alam semesta, yang menghasilkan jumlah energi yang sama dengan
triliunan bom nuklir yang diledakkan pada saat bersamaan.
Biasanya,
ledakan terjadi ketika sebuah inti panas pada bintang berukuran sangat besar —
dengan massa setidaknya delapan kali massa matahari — habis dan bintang
tersebut mati dan berubah menjadi bintang neutron. Ledakan supernova
memancarkan cahaya yang sangat cemerlang sehingga dapat terlihat dari galaksi
lain.
Namun
demikian, sejauh ini para astronom masih belum berhasil merekam cahaya yang
terpancar dalam ledakan supernova. Ledakan tersebut biasanya baru berhasil
direkam beberapa jam, atau bahkan hari, sesudah terjadinya ledakan.
Baru-baru
ini, para astronom telah berhasil merekam ledakan bintang yang spektakuler
tersebut pada saat kejadian. Pada 9 Januari 2008, saat menggunakan teleskop
antariksa Sinar-X Swift untuk mengamati sebuah objek di galaksi spiral NGC
2770, berjarak sekitar 90 juta tahun cahaya di rasi Lynx, Alicia Soderberg dari
Princeton University, New Jersey, AS, beserta koleganya, Edo Berger dari
Carnegie Observatory, California, mendeteksi semburan sinar-X yang
sangat cemerlang yang dilepaskan oleh sebuah ledakan supernova.
Mereka
menyimpulkan bahwa semburan sinar itu datang dari gelombang kejut (shockwave)
ledakan bintang yang menembus lapisan gas luar bintang tersebut.
Observasi awal itu kemudian
dilanjutkan dengan pemantauan oleh sejumlah teleskop tercanggih di dunia.
Pengamatan selama 30 hari setelah ledakan supernova — yang dinamai SN 2008D —
tersebut memungkinkan Soderberg dan koleganya untuk menentukan besarnya energi
yang dilepaskan oleh semburan sinar-X yang petama, yang akan sangat membantu
para teoretikus untuk memahami fenomena supernova secara lebih rinci.
Kesempatan
untuk menangkap pancaran sinar-X dari kematian bintang akan membantu para
astronom untuk menentukan sifat-sifat bintang masif, pembentukan bintang
neutron dan lubang hitam, serta dampak ledakan supernova terhadap lingkungan
sekitarnya. Para astronom juga dapat menentukan pola sinar-X yang harus dicari,
dan dengan demikian terbuka kesempatan untuk menemukan ledakan supernova lain
di masa mendatang.
Potensi
penemuan sejumlah besar supernova pada saat meledak juga akan membuka jalan
bagi kajian yang selama ini dianggap hampir mustahil. Menentukan waktu
terjadinya ledakan akan memungkinkan pencarian terhadap neutrino dan semburan
gelombang gravitasional yang diprediksi akan menyertai keruntuhan inti bintang
dan kelahiran sebuah bintang neutron.
21. George Smoot
Pada
tahun 1989, George Smoot dan tim NASA-nya meluncurkan sebuah satelit ke luar
angkasa. Sebuah instrumen sensitif yang disebut “Cosmic Background Emission
Explorer” (COBE) di dalam satelit itu hanya memerlukan delapan menit untuk
mendeteksi dan menegaskan tingkat radiasi yang dilaporkan Penzias dan Wilson.
Hasil ini secara pasti menunjukkan keberadaan bentuk rapat dan panas sisa dari
ledakan yang menghasilkan alam semesta. Kebanyakan ilmuwan mengakui bahwa COBE
telah berhasil menangkap sisa-sisa Dentuman Besar.
Ada lagi
bukti-bukti yang muncul untuk Dentuman Besar. Salah satunya berhubungan dengan
jumlah relatif hidrogen dan helium di alam semesta. Pengamatan menunjukkan
bahwa campuran kedua unsur ini di alam semesta sesuai dengan perhitungan
teoretis dari apa yang seharusnya tersisa setelah Dentuman Besar. Bukti itu
memberikan tusukan lagi ke jantung teori keadaan-stabil karena jika jagat raya
sudah ada selamanya dan tidak mempunyai permulaan, semua hidrogennya telah
terbakar menjadi helium.
Dihadapkan
pada bukti seperti itu, Dentuman Besar memperoleh persetujuan dunia ilmiah
nyaris sepenuhnya. Dalam sebuah artikel edisi Oktober 1994, Scientific
American menyatakan bahwa model Dentuman Besar adalah satu-satunya yang
dapat menjelaskan pengembangan terus menerus alam semesta dan hasil-hasil
pengamatan lainnya
Model
alam semesta berosilasi dikemukakan oleh para ahli
astronomi yang tidak menyukai gagasan bahwa Dentuman Besar adalah permulaan
alam semesta. Dalam model ini, dinyatakan bahwa pengembangan alam semesta
sekarang ini pada akhirnya akan membalik pada suatu waktu dan mulai mengerut.
Pengerutan ini akan menyebabkan segala sesuatu runtuh ke dalam satu titik
tunggal yang kemudian akan meledak lagi, memulai pengembangan babak baru.
Proses ini, kata mereka, berulang dalam waktu tak terbatas. Model ini juga
menyatakan bahwa alam semesta sudah mengalami transformasi ini tak terhingga
kali dan akan terus demikian selamanya. Dengan kata lain, alam semesta ada
selamanya namun mengembang dan runtuh pada interval berbeda dengan ledakan
besar menandai setiap siklusnya. Alam semesta tempat kita tinggal merupakan
salah satu alam semesta tanpa batas itu yang sedang melalui siklus yang sama.
Ini tak
lebih dari usaha lemah untuk menyelaraskan fakta Dentuman Besar terhadap
pandangan tentang alam semesta tanpa batas. Skenario tersebut tidak didukung
oleh hasil-hasil riset ilmiah selama 15-20 tahun terakhir, yang menunjukkan
bahwa alam semesta yang berosilasi seperti itu tidak mungkin terjadi. Lebih
jauh, hukum-hukum fisika tidak bisa menerangkan mengapa alam semesta yang
mengerut harus meledak lagi setelah runtuh ke dalam satu titik tunggal: ia
harus tetap seperti apa adanya. Hukum-hukum fisika juga tidak bisa menerangkan
mengapa alam semesta yang mengembang harus mulai mengerut lagi.
Bahkan kalaupun kita
menerima bahwa mekanisme yang membuat siklus mengerut-meledak-mengembang ini
benar-benar ada, satu hal penting adalah bahwa siklus ini tidak bisa berlanjut
selamanya, seperti anggapan mereka. Perhitungan untuk model ini menunjukkan bahwa
setiap alam semesta akan mentransfer sejumlah entropi kepada alam semesta
berikutnya. Dengan kata lain, jumlah energi berguna yang tersedia menjadi
berkurang setiap kali, dan setiap alam semesta akan terbuka lebih lambat dan
mempunyai diameter lebih besar. Ini akan menyebabkan alam semesta yang
terbentuk pada babak berikutnya menjadi lebih kecil dan begitulah seterusnya,
sampai pada akhirnya menghilang menjadi ketiadaan. Bahkan jika alam semesta
“buka dan tutup” ini dapat terjadi, mereka tidak bertahan selamanya. Pada satu
titik, akan diperlukan “sesuatu” untuk diciptakan dari
“ketiadaan”.
Hawking
gelisah dan berusaha mencari mekanisme yang bisa menghasilkan radiasi lubang
hitam jika Bekenstein benar.
Kemudian
Hawking menelaah apa yang bisa terjadi di permukaan lubang hitam. Di situ medan
gravitasi yang kuat berinteraksi dengan pasangan-pasangan partikel semu.
Gravitasi yang kuat dapat menarik salah satu komponen dari pasangan semu ke
dalam lubang hitam (energi negatif) dan menyebabkan massa lubang hitam berkurang,
sedangkan komponen lainnya (energi positif) keluar dari lubang hitam dalam
bentuk radiasi yang dapat dideteksi oleh pengamat luar.
Ia
menggabungkan mekanika kuantum dan relativitas umum dalam rumusan tunggal untuk
pertama kalinya. Dengan berani Hawking berkesimpulan bahwa lubang hitam tidak
sepenuhnya hitam tapi juga memancarkan radiasi. Penemuan tersebut membuat
Hawking mendapat gelar kehormatan akademik tertinggi Inggris. Dia diangkat
menjadi anggota Fellow of The Royal Society. Dan Hawking terpilih sebagai
Lucasian Professor of Mathematics di Cambridge. Ini adalah jabatan paling
prestisius — yang sebelumnya dipegang oleh Isaac Newton, dan selanjutnya oleh
Babbage, bapak komputer.
Dari hasil
penelitian-penelitian para ilmuwan pada terakhir ini telah ditemukan beberapa
planet, terutama setelah munculnya teleskop-teleskop yang serba cangih saat ini
sehingga para ilmuwan lebih mudah mencari dan menemukan planet-planet yang baru
antaralain :
- Varuna, ditemukan tahun 2000, berdiamater
sekitar 900 kilometer.
- Ixion, ditemukan tahun 2001, lebarnya 1.065
kilometer. Dan sampai saat ini juga planet pluto masih beranggapan bahwa
pluto bukanlah sebuah planet melainkan sebuah objek yang bentuknya lebih
besar. mereka yang berangapan bahwa pluto adalah tidak sebuah planet tidak
menutup kemungkinan sedna pun tidak akan diakui sebagai sebuah planet. dan
sedangkan mereka yang beranggapan bahwa planet pluto adalah sebuah planet
tidak menutup kemungkinan sedna juga akan disebut dengan planet ke-10 di
tatasurya ini apa lagi bila hal yang selama ini telah terbukti bahwa dia
memiliki sebuah bulan.
- Quaoar, ditemukan tahun 2002, adalah objek
dengan diameter sekitar 1.200 kilometer.
- Sedna. Menurut ilmuwn dari California
Institute of Technology planet ini berdiameter tidak lebih dari 1700 kilo
meter dan pertamakali terlihat tanggal 14 November 2003, saat para
astronom melakukan pengamatan langit menggunakan teleskop Samuel Oschin 48
inci, milik Observatorium Mount Palomar, California. Astronom-astronom
dari Institut Teknologi California, Observatorium Yale, dan Observatorium
Gemini, terlibat dalam penemuan tersebut. Sedna berotasi lebih pelan dari
pada yang diperkirakan oleh para ilmuan sehingga para ilmuan berpendapat
bahwa planet ini mempunyai sebuah satelit. Adapun Sedna sempat dianggap
sebagai planet yang ke-10 ditata surya ini.
Astronomi
Islam
Setelah
runtuhnya kebudayaan Yunani dan Romawi pada abad pertengahan, maka kiblat
kemajuan ilmu astronomi berpindah ke bangsa Arab. Astronomi berkembang begitu
pesat pada masa keemasan Islam (8 – 15 M). Salah satu bukti dan pengaruh
astronomi Islam yang cukup signifikan adalah penamaan sejumlah bintang yang
menggunakan bahasa Arab, seperti Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam,
Mintaka (tiga bintang terang di sabuk Orion), Aldebaran, Algol, Altair,
Betelgeus.
Selain
itu, astronomi Islam juga mewariskan beberapa istilah dalam `ratu sains’ itu
yang hingga kini masih digunakan, seperti alhidade, azimuth, almucantar, almanac,
denab, zenit, nadir, dan vega. Kumpulan tulisan dari astronomi Islam hingga
kini masih tetap tersimpan dan jumlahnya mencapaii 10 ribu manuskrip.
Astronom-Astronom Muslim
1. Al-Battani (858-929 M)
Al-Batanni
banyak mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit bulan dan planet-planet
tertentu. Dia membuktikan kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung
secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi, perhitungan yang
sangat akurat mengenai lamanya setahun matahari 365 hari, 5 jam, 46 menit dan
24 detik. Ia juga merevisi orbit bulan dan planet-planet. Al-Battani
mengusulkan teori baru untuk menentukan kondisi dapat terlihatnya bulan baru.
Tak hanya itu, ia juga berhasil mengubah sistem perhitungan sebelumnya yang
membagi satu hari ke dalam 60 bagian (jam) menjadi 12 bagian (12 jam), dan
setelah ditambah 12 jam waktu malam sehingga berjumlah 24 jam. Sejumlah karya
tentang astronomi terlahir dari buah pikirnya. Salah satu karyanya yang paling
populer adalah al-Zij al-Sabi. Kitab itu sangat bernilai dan dijadikan
rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad.
2. Al-Sufi (903-986 M)
Ia
berkontribusi besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan, dan
planet dan juga pergerakan matahari. Dalam Kitab Al-Kawakib as-Sabitah
Al-Musawwar, beliau menetapkan ciri-ciri bintang, memperbincangkan
kedudukan bintang, jarak, dan warnanya. Ia juga ada menulis mengenai astrolabe
(perkakas kuno yang biasa digunakan untuk mengukur kedudukan benda langit pada
bola langit) dan seribu satu cara penggunaannya.
3. Al-Khuzandi
Menciptakan
alat pertama yang bisa digunakan untuk mengukur sudut dengan lebih persis.
al-Khujandi mengamati rentetan transit garis bujur Matahari, yang
membolehkannya untuk menghitung sudut miring dari gerhana.
4. Al-Biruni (973-1050M)
Ia telah
menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya. Pada zaman itu, Al-Biruni juga
telah memperkirakan ukuran bumi dan membetulkan arah kota Makkah secara
saintifik dari berbagai arah di dunia. Dari 150 hasil buah pikirnya, 35
diantaranya didedikasikan untuk bidang astronomi.
5. Ibnu Yunus (1009M)
Sebagai
bentuk pengakuan dunia astronomi terhadap kiprahnya, namanya diabadikan pada
sebuah kawah di permukaan bulan. Salah satu kawah di permukaan bulan ada yang
dinamakan Ibn Yunus. Ia menghabiskan masa hidupnya selama 30 tahun dari
977-1003 M untuk memperhatikan benda-benda di angkasa. Dengan menggunakan
astrolabe yang besar, hingga berdiameter 1,4 meter, Ibnu Yunus telah membuat
lebih dari 10 ribu catatan mengenai kedudukan matahari sepanjang tahun.
6. Al-Zarqali (1029-1087M)
Wajah Al-Zarqali
diabadikan pada setem di Spanyol, sebagai bentuk penghargaan atas sumbangannya
terhadap penciptaan astrolabe yang lebih baik. Beliau telah menciptakan jadwal
Toledan dan juga merupakan seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih
kompleks bernama Safiha.
7. Omar Khayyam (1075 M)
Astronom
yang memperhitungkan bagaimana mengoreksi kalender Persia. Dia menyusun banyak
tabel astronomis dan melakukan reformasi kalender yang lebih tepat dari pada
Kalender Julian dan mirip dengan Kalender Gregorian Akhirnya, Khayyām dengan
sangat akurat (mengoreksi hingga enam desimal di belakang koma) mengukur
panjang satu tahun sebagai 365,24219858156 hari. Ia terkenal di dunia Persia
dan Islam karena observasi astronominya. Ia pernah membuat sebuah peta bintang
(yang kini lenyap) di angkasa.
8. Jabir Ibnu Aflah (1145M)
Ilmuwan
pertama yang menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan untuk mengukur dan
menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Salah satu karyanya yang populer
adalah Kitab al-Hay’ah.
9. Al-Khawarizmi
Muhammad
bin Mūsā al-Khawārizmī adalah seorang ahli matematika, astronomi, astrologi,
dan geografi yang berasal dari Persia. Beliau merevisi dan menyesuaikan
Geografi Ptolemeus sebaik mengerjakan tulisan-tulisan tentang astronomi dan
astrologi. Beliau juga banyak membuat tabel-tabel untuk digunakan menentukan
saat terjadinya bulan baru, terbit-terbenam matahari, bulan, planet, dan untuk
prediksi gerhana.
10. Al-Farghani
Nama lengkapnya
Abu’l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani. Ia merupakan salah
seorang sarjana Islam dalam bidang astronomi yang amat dikagumi. Beliau adalah
merupakan salah seorang ahli astronomi pada masa Khalifah Al-Ma’mun. Dia
menulis mengenai astrolabe dan menerangkan mengenai teori matematik di
balik penggunaan peralatan astronomi itu. Kitabnya yang paling populer adalah Fi
Harakat Al-Samawiyah wa Jaamai Ilm al-Nujum tentang kosmologi Muslim al-Farghani (Abu’l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani) menulis secara
ekstensif tentang gerakan benda langit. Karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa
Latin di abad ke-12
11. Nasiruddin at-Tusi
Ia
berhasil memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip
mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit.
12. Abu Ma’syar
Ia
berasal dari Balkh di Khurasan dan tinggal di Baghdad. Selain keyakinan
fanatisnya akan pengaruh benda langit terhadap kelahiran, kejadian dalam hidup,
dan kematian segala sesuatu, Abu Ma’syar juga memperkenalkan ke Eropa hokum
pasang surut laut, yang ia jelaskan dalam kaitannya dengan timbul dan
tenggelamnnya bulan.
Daftar Pustaka
Ø
http://fisikauntuksurga.wordpress.com/2011/10/09/sejarah-fisika-astronomi/
(diunduh pada tanggal 06 September 2013)
Ø
http://delibrarian.blogspot.com/2011/03/perkembangan-astronomi-pada-abad.html
(diunduh pada tanggal 06 September 2013)
Ø
http://nary-junary.blogspot.com/2013/04/perkembangan-sains-kebumian-dan.html
(diunduh pada tanggal 06 September 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar